Bag.
8
Perjalanan Ke Negeri Angin
Oleh: Syaiful Bahri
Gulungan pasir biru itu menghilang.
Desau angin berhenti. Ada teriakan kecil yang terdengar tak sadarkan diri.
Suara itu keluar dari mulut kecil seorang anak laki-laki yang baru saja
dihempaskan oleh gulungan pasir biru yang di bawa angin. Tubuh itu seperti
mengerang kesakitan. Badannya kelihatan lemah. Pakaian aneh yang di pakainya
melihatkan bentuk tubuhnya yang sedikit terluka. Ada goresan-goresan biru
memar. Anak itu terlihat sangat tampan, di kepalanya melingkar ranting akar berdaun. BIbo
mendekatinya dan mencoba untuk memberikan pertolongan. Ia mengambilkan air yang
ada di dalam kolam akar didekatnya. Dan meminumkan kepada anak laki-laki itu.
BIbo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tapi ia menyaksikan anak laki-laki
ini keluar dan dimuntahkan dari gulungan pasir dari lembah berpasir itu. Anak
laki-laki itu kelihatan usianya hampir sebaya dengan dirinya. Siapakah dia?
Dari mana asalnya? Tanya BIbo dalam hati, dan apa yang terjadi dengan dirinya
sampai seperti ini.
“Oh…di mana aku? Siapa kamu?” Tanya anak
laki-laki itu kepada BIbo yang ada didekatnya.
“Hem..kamu sudah sadar? Aku BIbo, kita
sekarang ada di hutan Rana. Siapakah kamu? Aku melihat kamu keluar dari
gulungan pasir biru di lembah berpasir itu.”
“Benarkah? Aku masih belum ingat
apa-apa. Kepalaku sedikit pusing terhempas tadi.”
“Berbaringlah dulu. Aku akan carikan
makanan untukmu. Agar badanmu kembali menjadi kuat. Aku akan ambilkan buah yang
dapat menyegarkan badanmu.”
BIbo bangkit berjalan. Ia mencari sebuah
kolam akar lain yang di dalamnya terapung buah-buah segar yang di keluarkan
dari mulut ikan-ikan tak bersirip dari lubang akar pohon. Ia mengambil sebuah
dan kembali memberikannya kepada anak laki-laki itu.
“Makanlah buah ini. Dengan memakannya,
tubuhmu akan kembali segar dan kuat. Kamu juga bisa mengingat kembali apa yang
terjadi dengan dirimu.”
“Terima kasih BIbo. Kamu baik sekali.
Namaku Aray. Aku dari negeri angin, Kata Aray dan memakan buah yang di berikan
BIbo. Kemudian ia tersenyum, dari matanya, ia terlihat sangat senang. Buah ini
enak dan segar sekali. Aku merasakan tubuhku kembali kuat.”
Sedangkan BIbo mendengar Aray berasal
dari negeri angin. Hatinya menjadi sangat gembira sekali. Ia senang bisa
bertemu dengan Aray. Ia menjadi punya teman baru dalam perjalanannya.
“Ia,Aku sudah memakan dan merasakannya
juga. Benar-benar buah ajaib. Kata BIbo diiringan dengan suara gelak tawa. Ayo habiskan! Di hutan Rana ini kita masih
bisa mendapatkannya lagi.”
“Apa BIbo? Kamu menyebutkan tadi kalau
kita ada di hutan Rana?”
“Benar. Kenapa kamu sangat terkejut
Aray? Apakah kamu tahu tentang hutan Rana ini?”
“Aku pernah mendengar cerita hutan Rana
ini dari ayahku. Setidaknya aku tahu sedikit tentang hutan ini.”
“Ohh, kalau begitu baguslah. Kamu bisa memberitahu
aku tentang hutan Rana ini. Karena aku sedang mencari negeri angin, negerimu
berasal.” Sahut BIbo menatap Aray dengan alis mata yang terangkat dan bola mata
yang membesar.
“Kita harus hati-hati dan tetap waspada
BIbo, di hutan Rana ini.”
“Hahh.. memangnya ada apa di hutan ini?”
Tanya BIbo sedikit terkejut.
Aray sedikit menyunggingkan senyum
melihat keterkejutan BIbo. Ia mulai terlihat sudah sangat segar. Dan berdiri di
hadapan BIbo.
“Menurut Dubi, ada banyak orang aneh di
hutan Rana ini. Tapi kita tidak perlu takut. Aku sudah diberitahu olehnya
bagaimana cara menghadapinya.”
“Siapa Dubi?”
“Oh, Dubi adalah pelayan setia ayahku.
Ia banyak tahu cerita tentang hutan Rana ini. Dan ia banyak menceritakannya
kepadaku.” Jawab Aray tersenyum.
“Siapakah dirimu Aray? Kamu mengatakan
Dubi adalah pelayan setia ayahnu. Tentulah ayahmu bukan orang yang biasa di
negeri angin?” Tanya BIbo lagi.
Aray terdiam dan menatap wajah BIbo.
Mereka berdiri saling bertatapan. Lama mereka terdiam saling bertanya dalam
hati. Tampak senyum sumringah dari bibir Aray. Dan mendekati BIbo.
“Tampaknya kamu datang dari tempat yang
berbeda BIbo. Mengapa kamu mencari negeri angin?” Aray balik bertanya kepada
BIbo.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku Aray?”
Mereka berdua saling tersenyum dan
tertawa. Saling memandangi satu sama lain. Aray yang berkulit sedikit hitam
itu, memiliki wajah hampir mirip dengan BIbo yang membedakannya adalah Bibir
Aray yang sedikit lebih tebal dengan hidung yang lebih mancung. Namun keduanya
tampak memiliki karakter yang hampir sama. Tegas berprinsip. Sama-sama memiliki
rasa ingin tahu dan berani.
“Ayo.., kalian berdua segera menghindar
dari tempat itu!”
Tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan
sebuah suara yang melengking ditujukan
kepada mereka. Kali ini suara itu terdengar sedikit lebih ringan dan halus dari
suara yang sebelumnya pernah BIbo dengar. Berarti itu bukan suara Caru. Jadi
suara siapa itu?
“Aray segeralah bersembuyi dan bawalah
sahabatmu itu ke tempat yang aman!”
BIbo berpaling menatap Aray. Suara itu menyebut
namanya. Berarti orang itu mengenal Aray. Tanpa menunggu suara itu terdengar
lagi, Aray segera memegang tangan BIbo dan menariknya untuk pergi.
“Ayo, BIbo! Kita harus segera pergi dari
tempat ini.”kata Aray tanpa menunggu aba-aba lagi sambil segera berlari
memegang tangan BIbo. BIbo yang masih belum tahu apa yang terjadi segera
berlari mengikuti langkah lari Aray. Tiba-tiba terdengar suara bunyi dentuman
yang sangat keras dan ledakan di tempat mereka tadi berada.
Air-air yang ada di dalam kolam-kolam
akar seketika mendidih mengeluarkan asap yang sangat banyak dan panas. Air itu
seketika mengeringkan tumbuhan lumut biru yang ada di sekitarnya. Tumbuhan itu
menjadi kering seperti terbakar dan menghitam. Ledakan itu menimbulkan
kerusakan disekitarnya. Ada api yang sempat menyala dan membakar sebagian
akar-akar pohon yang bergantungan. Tapi api itu segera padam. Belum tahu siapa
yang mematikannya. Di sana ada berdiri seorang laki-laki yang berpakain biru
dengan ikat kepala. Matanya teduh menatap kepergian Aray dan BIbo sambil
tersenyum. Laki-laki itu kemudian menghilang diselimuti angin yang berwarna
biru berkabut di lembah berpasir biru.
Baca Sebelumnya: Caru, Si Orang Aneh Bagian 7
Perjalanan Ke Negeri Angin
Lihat Juga: Seputar Rumah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar