Selasa, 31 Juli 2018

“Bertemu Sahabat Baru”


Bag. 8

Perjalanan Ke Negeri Angin


Oleh: Syaiful Bahri

Gulungan pasir biru itu menghilang. Desau angin berhenti. Ada teriakan kecil yang terdengar tak sadarkan diri. Suara itu keluar dari mulut kecil seorang anak laki-laki yang baru saja dihempaskan oleh gulungan pasir biru yang di bawa angin. Tubuh itu seperti mengerang kesakitan. Badannya kelihatan lemah. Pakaian aneh yang di pakainya melihatkan bentuk tubuhnya yang sedikit terluka. Ada goresan-goresan biru memar. Anak itu terlihat sangat tampan, di kepalanya  melingkar ranting akar berdaun. BIbo mendekatinya dan mencoba untuk memberikan pertolongan. Ia mengambilkan air yang ada di dalam kolam akar didekatnya. Dan meminumkan kepada anak laki-laki itu. BIbo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tapi ia menyaksikan anak laki-laki ini keluar dan dimuntahkan dari gulungan pasir dari lembah berpasir itu. Anak laki-laki itu kelihatan usianya hampir sebaya dengan dirinya. Siapakah dia? Dari mana asalnya? Tanya BIbo dalam hati, dan apa yang terjadi dengan dirinya sampai seperti ini.

“Oh…di mana aku? Siapa kamu?” Tanya anak laki-laki itu kepada BIbo yang ada didekatnya.

“Hem..kamu sudah sadar? Aku BIbo, kita sekarang ada di hutan Rana. Siapakah kamu? Aku melihat kamu keluar dari gulungan pasir biru di lembah berpasir itu.”

“Benarkah? Aku masih belum ingat apa-apa. Kepalaku sedikit pusing terhempas tadi.”

“Berbaringlah dulu. Aku akan carikan makanan untukmu. Agar badanmu kembali menjadi kuat. Aku akan ambilkan buah yang dapat menyegarkan badanmu.”

BIbo bangkit berjalan. Ia mencari sebuah kolam akar lain yang di dalamnya terapung buah-buah segar yang di keluarkan dari mulut ikan-ikan tak bersirip dari lubang akar pohon. Ia mengambil sebuah dan kembali memberikannya kepada anak laki-laki itu.

“Makanlah buah ini. Dengan memakannya, tubuhmu akan kembali segar dan kuat. Kamu juga bisa mengingat kembali apa yang terjadi dengan dirimu.”

“Terima kasih BIbo. Kamu baik sekali. Namaku Aray. Aku dari negeri angin, Kata Aray dan memakan buah yang di berikan BIbo. Kemudian ia tersenyum, dari matanya, ia terlihat sangat senang. Buah ini enak dan segar sekali. Aku merasakan tubuhku kembali kuat.”

Sedangkan BIbo mendengar Aray berasal dari negeri angin. Hatinya menjadi sangat gembira sekali. Ia senang bisa bertemu dengan Aray. Ia menjadi punya teman baru dalam perjalanannya.

“Ia,Aku sudah memakan dan merasakannya juga. Benar-benar buah ajaib. Kata BIbo diiringan dengan suara gelak tawa.  Ayo habiskan! Di hutan Rana ini kita masih bisa mendapatkannya lagi.”

“Apa BIbo? Kamu menyebutkan tadi kalau kita ada di hutan Rana?”

“Benar. Kenapa kamu sangat terkejut Aray? Apakah kamu tahu tentang hutan Rana ini?”

“Aku pernah mendengar cerita hutan Rana ini dari ayahku. Setidaknya aku tahu sedikit tentang hutan ini.”

“Ohh, kalau begitu baguslah. Kamu bisa memberitahu aku tentang hutan Rana ini. Karena aku sedang mencari negeri angin, negerimu berasal.” Sahut BIbo menatap Aray dengan alis mata yang terangkat dan bola mata yang membesar.

“Kita harus hati-hati dan tetap waspada BIbo, di hutan Rana ini.”

“Hahh.. memangnya ada apa di hutan ini?” Tanya BIbo sedikit terkejut.

Aray sedikit menyunggingkan senyum melihat keterkejutan BIbo. Ia mulai terlihat sudah sangat segar. Dan berdiri di hadapan BIbo.

“Menurut Dubi, ada banyak orang aneh di hutan Rana ini. Tapi kita tidak perlu takut. Aku sudah diberitahu olehnya bagaimana cara menghadapinya.”

“Siapa Dubi?”

“Oh, Dubi adalah pelayan setia ayahku. Ia banyak tahu cerita tentang hutan Rana ini. Dan ia banyak menceritakannya kepadaku.” Jawab Aray tersenyum.

“Siapakah dirimu Aray? Kamu mengatakan Dubi adalah pelayan setia ayahnu. Tentulah ayahmu bukan orang yang biasa di negeri angin?” Tanya BIbo lagi.

Aray terdiam dan menatap wajah BIbo. Mereka berdiri saling bertatapan. Lama mereka terdiam saling bertanya dalam hati. Tampak senyum sumringah dari bibir Aray. Dan mendekati BIbo.

“Tampaknya kamu datang dari tempat yang berbeda BIbo. Mengapa kamu mencari negeri angin?” Aray balik bertanya kepada BIbo.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku Aray?”

Mereka berdua saling tersenyum dan tertawa. Saling memandangi satu sama lain. Aray yang berkulit sedikit hitam itu, memiliki wajah hampir mirip dengan BIbo yang membedakannya adalah Bibir Aray yang sedikit lebih tebal dengan hidung yang lebih mancung. Namun keduanya tampak memiliki karakter yang hampir sama. Tegas berprinsip. Sama-sama memiliki rasa ingin tahu dan berani.

“Ayo.., kalian berdua segera menghindar dari tempat itu!”

Tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan sebuah suara yang  melengking ditujukan kepada mereka. Kali ini suara itu terdengar sedikit lebih ringan dan halus dari suara yang sebelumnya pernah BIbo dengar. Berarti itu bukan suara Caru. Jadi suara siapa itu?

“Aray segeralah bersembuyi dan bawalah sahabatmu itu ke tempat yang aman!”

BIbo berpaling menatap Aray. Suara itu menyebut namanya. Berarti orang itu mengenal Aray. Tanpa menunggu suara itu terdengar lagi, Aray segera memegang tangan BIbo dan menariknya untuk pergi.

“Ayo, BIbo! Kita harus segera pergi dari tempat ini.”kata Aray tanpa menunggu aba-aba lagi sambil segera berlari memegang tangan BIbo. BIbo yang masih belum tahu apa yang terjadi segera berlari mengikuti langkah lari Aray. Tiba-tiba terdengar suara bunyi dentuman yang sangat keras dan ledakan di tempat mereka tadi berada.

Air-air yang ada di dalam kolam-kolam akar seketika mendidih mengeluarkan asap yang sangat banyak dan panas. Air itu seketika mengeringkan tumbuhan lumut biru yang ada di sekitarnya. Tumbuhan itu menjadi kering seperti terbakar dan menghitam. Ledakan itu menimbulkan kerusakan disekitarnya. Ada api yang sempat menyala dan membakar sebagian akar-akar pohon yang bergantungan. Tapi api itu segera padam. Belum tahu siapa yang mematikannya. Di sana ada berdiri seorang laki-laki yang berpakain biru dengan ikat kepala. Matanya teduh menatap kepergian Aray dan BIbo sambil tersenyum. Laki-laki itu kemudian menghilang diselimuti angin yang berwarna biru berkabut di lembah berpasir biru.

Baca Sebelumnya: Caru, Si Orang Aneh Bagian 7 
Perjalanan Ke Negeri Angin

Lihat Juga: Seputar Rumah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar