Jumat, 27 Juli 2018

“Bersahabat Dengan Si Blue”

Bagian 4

Perjalanan Ke Negeri Angin

Oleh: Syaiful Bahri

Persahabatan BIbo bertambah erat. Di rumah nenek, BIbo dan Blue selalu main bersama. Blue menemani BIbo kemana pun pergi. BIbo juga tidak mau kehilangan Si Blue. Hari ke hari BIbo dan Blue semakin akrab. Nenek hanya tersenyum-senyum saja bila melihat BIbo bermain bola dengan si Blue. Di pagi hari ini, nenek terlihat sangat rajin membersihkan rumah. Tapi nenek tidak kuat kalau harus memotong rumput yang sudah tinggi di halaman rumah.

“Nek, biar BIbo saja yang memotong rumput.  Rumputnya sudah tinggi-tinggi. Kalau terus dibiarkan nanti rumah nenek dipenuhi semak berduri. Lihat tuh nek, sudah banyak rumput-rumput berduri yang tumbuh.”

Nenek yang sedang memungut sampah mengalihkan perhatiannya kearah yang ditunjuk BIbo. Disudut-sudut rumah tuanya. Sudah ditumbuhi tanaman semak berduri. Benar kata BIbo kalau dibiarkan rumput-rumput itu akan terus tumbuh dan semakin liar.

“Ayolah BIbo, kita membersihkannya!” kata nenek terdengar  suaranya agak parau.

“Nenek sakit, nek? Kenapa suara nenek menjadi serak?”

“Tenggorokan nenek hanya sedikit terasa gatal. Tidak apa-apa.” Jawab neneknya berjalan sambil membuang sampah yang dipungutnya tadi ke lubang sampah.

“BIbo saja yang akan membersihkannya nek, BIbo ambil cangkul dan gunting rumput dulu.” Kata BIbo segera bergegas masuk ke dalam rumah. Nenek hanya bisa melihat langkah BIbo.

“Cangkul dan Gunting rumputnya di tempat biasa BIbo…!!” sedikit neneknya berteriak mengingatkan BIbo. “Iya, nek. BIbo sudah tahu.” Jawab BIbo dari dalam rumah menuju ke kamar kosong tempat barang-barang yang tak terpakai di simpan.

“Hai Blue, kamu mau membantu memotong rumput?”  tiba-tiba Blue muncul di saat BIbo sedang menggunting rumput-rumput itu. Ia mengumpulkan semua rumput –rumput yang sudah di guntingnya dan siap untuk dibakar nanti.

“Kamu kemana aja tadi. Aku cari-cari kamu tidak kelihatan?”  tanya BIbo kepada Blue yang berputar-putar di dekatnya. Ia merasa dihibur oleh Blue yang memantul-mantulkan dirinya.

“Ia, nanti kita bermain. Tapi aku harus selesaikan dulu pekerjaanku ini. Kamu jangan kemana-mana lagi Blue. Sebentar lagi sudah siap.”

Blue hanya berputar-putar mengelilinginya. Seakan Blue mengerti dengan ucapan BIbo.
Tiba-tiba BIbo menendang si Blue. Dan tertawa-tawa melihat Blue melayang jauh mengenai batang pohon mangga. Blue memantul kembali dengan cepat. Dan ditangkap oleh BIbo. Hap! Kemudian BIbo berlari-lari sambil membawa Blue kelililing rumah. Sambil melihat- lihat apakah masih ada rumput yang tersisa di sisi-sisi rumah nenek. BIbo kembali membersihkan sisa-sisa rumput yang tertinggal dengan cangkulnya. Dan membakar rumput-rumput yang sudah kering. Tidak terasa sudah hampir setengah harian ia membersihkan rumput di halaman rumah nenek. Rumah nenek sudah terlihat rapi  dan bersih. Tidak ada lagi rumput-rumput dan semak berduri. Semua sudah dibersihkan dan dipotong rapi oleh BIbo.

BIbo Nampak kelelahan. Ia bersandar dan istirahat di teras rumah nenek. Blue setia menemaninya. Dari dalam rumah, nenek membawa makanan kecil gorengan pisang dan keripik ubi. Dan minuman segar jus mangga.

“Ayo, diminum dan dimakan jus dan gorengannya, BIbo. Kamu istirahatlah! Nenek bangga denganmu, sudah mau membantu nenek membersihkan rumput-rumput yang ada di halaman rumah.” Kata neneknya yang juga ikut duduk di sampingnya, sambil menatap keluar  halaman rumah yang terlihat sudah bersih.

“Alhamdulillah nek, terima kasih dengan jus mangga dan gorengannya ya, nek. BIbo senang bisa membantu nenek. apalagi ditemani dengan si Blue. Oh ya nek, sayangnya si Blue tidak bisa bicara ya? coba kalau saja si Blue bisa bicara. Wuih…pasti tambah seru…!!!” Kata BIbo berkhayal dan tertawa.

“Jadi Blue belum ada bicara denganmu BIbo?” tanya neneknya melirik si Blue di samping tempat ia duduk.

“Maksud nenek, apakah si Blue bisa berbicara?” tanya BIbo terheran dengan mulut menganga.

“Emm….mungkin nanti bila saatnya tiba. Kamu akan mengetahuinya. Nenek lihat kalian semakin bertambah akrab. Kalian berdua selalu main bersama.”

“Iya sih nek, tapi masih belum seru..!! belum ada tantangannya. Blue memang sahabat yang setia. Ia sering menghibur BIbo. Selama tinggal di rumah nenek. BIbo selalu bermain dengan Blue. BIbo ingin berpetualang aja nek jadinya. Kalau Blue bisa membawa BIbo terbang kemana aja, kan jadi bertambah asik nek.” Wajah BIbo serius memandang kepada neneknya. Tapi wajah kecilnya masih menyimpan kepolosan.

“Jadi BIbo ingin berpetualang. BIbo berani?” Tantang neneknya.

BIbo tertawa mendengar pertanyaan dari neneknya. “BIbo sekarangkan sudah besar nek. Datang ke rumah nenek saja BIbo berani seorang diri.” katanya membanggakan diri. Sejenak lama neneknya terdiam memandang wajah BIbo dan mengusap rambutnya yang hitam sedikit memanjang  itu.

“Hemm…” neneknya menghela nafas, sepertinya ada yang sedang dipikirkan. Ada sesuatu yang sedang ia risaukan. Apakah ini sudah waktunya? Bisiknya dalam batin sambil memandangi wajah BIbo yang sudah tertidur di teras rumah di sampingnya.

“Blue, apakah kamu sudah siap untuk menjaga cucuku ini?”  nenek berbisik pelan kepada Blue yang ada didekatnya. Blue mengerti dan berputar-putar mengelilingi tubuh BIbo yang tertidur dengan pulas.
Baca Juga: Si Blue, Si Bola Berekor Bagian 3 Perjalanan Ke Negeri Angin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar