Bagian 4
Perjalanan Ke Negeri Angin
Perjalanan Ke Negeri Angin
Oleh: Syaiful Bahri
Persahabatan BIbo bertambah erat. Di
rumah nenek, BIbo dan Blue selalu main bersama. Blue menemani BIbo kemana pun
pergi. BIbo juga tidak mau kehilangan Si Blue. Hari ke hari BIbo dan Blue
semakin akrab. Nenek hanya tersenyum-senyum saja bila melihat BIbo bermain bola
dengan si Blue. Di pagi hari ini, nenek terlihat sangat rajin membersihkan
rumah. Tapi nenek tidak kuat kalau harus memotong rumput yang sudah tinggi di
halaman rumah.
“Nek, biar BIbo saja yang memotong rumput. Rumputnya sudah tinggi-tinggi. Kalau terus
dibiarkan nanti rumah nenek dipenuhi semak berduri. Lihat tuh nek, sudah banyak
rumput-rumput berduri yang tumbuh.”
Nenek yang sedang memungut sampah mengalihkan
perhatiannya kearah yang ditunjuk BIbo. Disudut-sudut rumah tuanya. Sudah
ditumbuhi tanaman semak berduri. Benar kata BIbo kalau dibiarkan rumput-rumput
itu akan terus tumbuh dan semakin liar.
“Ayolah BIbo, kita membersihkannya!”
kata nenek terdengar suaranya agak
parau.
“Nenek sakit, nek? Kenapa suara nenek
menjadi serak?”
“Tenggorokan nenek hanya sedikit terasa
gatal. Tidak apa-apa.” Jawab neneknya berjalan sambil membuang sampah yang
dipungutnya tadi ke lubang sampah.
“BIbo saja yang akan membersihkannya
nek, BIbo ambil cangkul dan gunting rumput dulu.” Kata BIbo segera bergegas
masuk ke dalam rumah. Nenek hanya bisa melihat langkah BIbo.
“Cangkul dan Gunting rumputnya di tempat
biasa BIbo…!!” sedikit neneknya berteriak mengingatkan BIbo. “Iya, nek. BIbo
sudah tahu.” Jawab BIbo dari dalam rumah menuju ke kamar kosong tempat
barang-barang yang tak terpakai di simpan.
“Hai Blue, kamu mau membantu memotong
rumput?” tiba-tiba Blue muncul di saat
BIbo sedang menggunting rumput-rumput itu. Ia mengumpulkan semua rumput –rumput
yang sudah di guntingnya dan siap untuk dibakar nanti.
“Kamu kemana aja tadi. Aku cari-cari
kamu tidak kelihatan?” tanya BIbo kepada
Blue yang berputar-putar di dekatnya. Ia merasa dihibur oleh Blue yang
memantul-mantulkan dirinya.
“Ia, nanti kita bermain. Tapi aku harus
selesaikan dulu pekerjaanku ini. Kamu jangan kemana-mana lagi Blue. Sebentar
lagi sudah siap.”
Blue hanya berputar-putar
mengelilinginya. Seakan Blue mengerti dengan ucapan BIbo.
Tiba-tiba BIbo menendang si Blue. Dan
tertawa-tawa melihat Blue melayang jauh mengenai batang pohon mangga. Blue
memantul kembali dengan cepat. Dan ditangkap oleh BIbo. Hap! Kemudian BIbo
berlari-lari sambil membawa Blue kelililing rumah. Sambil melihat- lihat apakah
masih ada rumput yang tersisa di sisi-sisi rumah nenek. BIbo kembali membersihkan
sisa-sisa rumput yang tertinggal dengan cangkulnya. Dan membakar rumput-rumput
yang sudah kering. Tidak terasa sudah hampir setengah harian ia membersihkan
rumput di halaman rumah nenek. Rumah nenek sudah terlihat rapi dan bersih. Tidak ada lagi rumput-rumput dan
semak berduri. Semua sudah dibersihkan dan dipotong rapi oleh BIbo.
BIbo Nampak kelelahan. Ia bersandar dan
istirahat di teras rumah nenek. Blue setia menemaninya. Dari dalam rumah, nenek
membawa makanan kecil gorengan pisang dan keripik ubi. Dan minuman segar jus
mangga.
“Ayo, diminum dan dimakan jus dan
gorengannya, BIbo. Kamu istirahatlah! Nenek bangga denganmu, sudah mau membantu
nenek membersihkan rumput-rumput yang ada di halaman rumah.” Kata neneknya yang
juga ikut duduk di sampingnya, sambil menatap keluar halaman rumah yang terlihat sudah bersih.
“Alhamdulillah nek, terima kasih dengan
jus mangga dan gorengannya ya, nek. BIbo senang bisa membantu nenek. apalagi
ditemani dengan si Blue. Oh ya nek, sayangnya si Blue tidak bisa bicara ya?
coba kalau saja si Blue bisa bicara. Wuih…pasti tambah seru…!!!” Kata BIbo
berkhayal dan tertawa.
“Jadi Blue belum ada bicara denganmu
BIbo?” tanya neneknya melirik si Blue di samping tempat ia duduk.
“Maksud nenek, apakah si Blue bisa
berbicara?” tanya BIbo terheran dengan mulut menganga.
“Emm….mungkin nanti bila saatnya tiba.
Kamu akan mengetahuinya. Nenek lihat kalian semakin bertambah akrab. Kalian
berdua selalu main bersama.”
“Iya sih nek, tapi masih belum seru..!!
belum ada tantangannya. Blue memang sahabat yang setia. Ia sering menghibur
BIbo. Selama tinggal di rumah nenek. BIbo selalu bermain dengan Blue. BIbo
ingin berpetualang aja nek jadinya. Kalau Blue bisa membawa BIbo terbang kemana
aja, kan jadi bertambah asik nek.” Wajah BIbo serius memandang kepada neneknya.
Tapi wajah kecilnya masih menyimpan kepolosan.
“Jadi BIbo ingin berpetualang. BIbo
berani?” Tantang neneknya.
BIbo tertawa mendengar pertanyaan dari
neneknya. “BIbo sekarangkan sudah besar nek. Datang ke rumah nenek saja BIbo
berani seorang diri.” katanya membanggakan diri. Sejenak lama neneknya terdiam
memandang wajah BIbo dan mengusap rambutnya yang hitam sedikit memanjang itu.
“Hemm…” neneknya menghela nafas,
sepertinya ada yang sedang dipikirkan. Ada sesuatu yang sedang ia risaukan.
Apakah ini sudah waktunya? Bisiknya dalam batin sambil memandangi wajah BIbo
yang sudah tertidur di teras rumah di sampingnya.
“Blue, apakah kamu sudah siap untuk
menjaga cucuku ini?” nenek berbisik
pelan kepada Blue yang ada didekatnya. Blue mengerti dan berputar-putar
mengelilingi tubuh BIbo yang tertidur dengan pulas.
Baca Juga: Si Blue, Si Bola Berekor Bagian 3 Perjalanan Ke Negeri Angin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar