Bag.
7
Perjalanan Ke Negeri Angin
Perjalanan Ke Negeri Angin
Oleh: Syaiful Bahri
Tanah lembah penuh daun itu bergetar.
Akar-akar pohon yang bersembunyi bergerak tumbuh membesar. Suara air makin
deras beriak-riak saling berlomba mengalir ke dalam kolam-kolam akar. Akar-akar
itu sangat besar menopang batang pohon yang berdaun lebat dengan cabang dan
ranting yang tinggi menjulang saling merapat. Hanya ada sedikit cahaya yang
masuk dari celah-celah daun. BIbo masih tunduk terduduk seorang diri. Ia masih
bertanya-tanya, apakah ia benar-benar ada di hutan Rana. Kalau saja itu benar,
seharusnya ia bergembira. Karena menurut neneknya, kunci yang di curi ada di
hutan ini. Kalau ia bisa menemukan kunci itu pastilah ia juga dapat menemukan
kakeknya.
BIbo bergegas bangkit. Ia mencari-cari
sesuatu. Yah, tas hitam ranselnya ada di mana? Saat berangkat dari rumah nenek
dan terbang bersama Si Blue. Ia membawa sedikit perbekalan dalam tas hitam
ranselnya. Walaupun sebenarnya ia tidak membutuhkan lagi. Karena di dalam hutan
ini ada makanan dan buah yang bisa dimakannya. Tapi ada sesuaut yang penting di
dalam tas itu. Ah, apakah tas itu juga jatuh dan hilang bersama dengan hilangnya Si Blue. BIbo sudah berteriak-teriak
cukup keras memanggil si Blue. Tapi Blue tidak muncul juga.
BIbo berjalan sendiri di tengah lembah
yang di penuhi akar-akar pohon yang bergantungan dan menjalar menyatu seperti
rantai. Ia berjalan dengan sangat hati-hati sekali. Sepertinya lembah ini tidak
pernah sekalipun di masuki oleh manusia. Ada banyak aliran air antara satu
kolam akar dengan kolam akar lainnya yang lebih kecil. Air-air itu bertemu dan
berkumpul dalam kolam-kolam akar yang lebih besar. Ada tumbuh-tumbuhan lumut
yang berwarna biru, sungguh aneh. Akar-akar itu terlihat sangat licin. BIbo
tidak tahu kalau dari akar-akar itu ada celah celah kecil tersenbunyi yang
merupakan lorong-lorong berupa jalan yang bisa di lalui.
BIbo tidak tahu ia akan berjalan ke
mana. Ia merasa menikmati perjalanannya sembari melihat burung-burung
berterbangan dan berkicau di sarang-sarangnya. Ada banyak lubang di batang-batang
pohon itu. ada banyak burung yang bersarang di dalamnya. Namun lagi-lagi BIbo
dikejutkan dengan pemandangan yang takjub. Ada lembah berpasir di tengah hutan.
Pasir itu warnanya biru berkilau. Kilau cahayanya melingkar-lingkar seperti
menari-nari di bawa hembusan angin dari batang dan ranting daun pepohonan.
‘BIbo jangan ke sana!” Terdengar sebuah
suara peringatan kepadanya. Itu seperti suara yang di dengarnya tadi.
BIbo mencari-cari asal suara itu. dari
balik celah akar pohon ia melihat ada seorang lelaki dengan lengan baju dan
celana yang di gulung. Di tangannya ada sebuah tongkat dari ranting kayu. Ia
berdiri dengan pakaian warna hitam dan tas kecil warna biru yang menyelimpang
di dadanya.
“Jangan kamu dekati lembah berpasir itu!
ulangnya sekali lagi kepada BIbo. Peringatannya sangat jelas. Ia tidak
menginginkan BIbo berjalan mendekati lembah berpasir itu. Matanya mengarah
kepada BIbo. Ia tunjukkan tongkat ranting kayunya ke pada BIbo. Menjauhlah dari
sana. Tempat itu sangat berbahaya bagimu.”
“Hai, orang aneh. Siapakah dirimu?
Bagaimana kamu tahu namaku?” sahut BIbo berdiri tegak berteriak dan bertanya
kepada orang aneh yang ada di celah-celah akar itu.
“Namaku Caru. Aku penjaga hutan Rana
ini.”
Jadi ini benar-benar hutan Rana. Hutan
yang aku cari. Berarti di sinilah negeri angin itu. tapi bagaimana orang ini
bisa tahu namaku. Pikir BIbo sambil menatap jauh kearah orang aneh itu.
“Apa yang kamu katakan hai orang aneh?
Apakah ini benar hutan Rana?”
“Benar BIbo. Kamu sekarang berada di
hutan Rana.Berhati-hatilah.” Teriak orang aneh itu yang menyebut namanya Caru
itu dan terus pergi menghilang.
“Hai Caru tunggu! Apakah engkau
mengetahui di mana negeri angin? Tanya BIbo berteriak menahan Caru yang akan
segera pergi. Tapi terlambat orang aneh itu sudah menghilang diantara
celah-celah akar pohon yang besar itu.
BIbo hanya menatapnya jauh. Sambil
menarik nafasnya dalam-dalam. Ia tak bersuara lagi. Hanya matanya yang menatap
tajam jauh ke dalam hutan Rana yang
menelan Caru dan menghilang secara misterius.
Apa yang harus aku lakukan sekarang.
Mengapa Caru melarang aku untuk mendekai lembah berpasir itu? Ada apa
sebenarnya di sana? Kenapa aku tidak boleh ke sana? Siapakah sebenarnya Caru
itu? Tingkahnya sangat aneh sekali.
Apakah ia terus mengikuti dan mengawasi aku?
BIbo dibuat penasaran dan bertanya-tanya
tentang lembah berpasir dan siapa Caru itu. Ia berpikir, apakah negeri angin
itu ada di sana? Dan Caru tidak menginginkan aku ada di sana bertemu dan
berjumpa dengan kakekku. Apakah kunci yang di curi itu ada disana dan
disembunyikan oleh Caru di tempat itu. Apakah Caru yang mencuri kunci itu dan
menyembunyikannya di lembah berpasir itu?
Ah, aku harus membuat keputusan. Aku
harus cari tahu kenapa Caru melarangku ke lembah pasir itu. apakah di sana
tersimpan sebuah rahasia?
BIbo melangkah mendekati lembah berpasir
biru itu. Ada suara-suara angin yang mendesau lebat. Dan menggulung pasir-pasir
biru itu. BIbo kaget dan terkejut ada seorang anak laki-laki yang terbawa dalam
arus angin itu. dan jatuh terhempas cukup keras.menghantam akar kayu yang cukup
besar. Ohh….siapa anak laki-laki itu? kejar BIbo mendekatinya.
Baca juga: Di Hutan Rana Bagian 6 Perjalanan Ke Negeri Angin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar