Sabtu, 28 Juli 2018

“Caru, Si Orang Aneh”


Bag. 7

Perjalanan Ke Negeri Angin


Oleh: Syaiful Bahri


Tanah lembah penuh daun itu bergetar. Akar-akar pohon yang bersembunyi bergerak tumbuh membesar. Suara air makin deras beriak-riak saling berlomba mengalir ke dalam kolam-kolam akar. Akar-akar itu sangat besar menopang batang pohon yang berdaun lebat dengan cabang dan ranting yang tinggi menjulang saling merapat. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari celah-celah daun. BIbo masih tunduk terduduk seorang diri. Ia masih bertanya-tanya, apakah ia benar-benar ada di hutan Rana. Kalau saja itu benar, seharusnya ia bergembira. Karena menurut neneknya, kunci yang di curi ada di hutan ini. Kalau ia bisa menemukan kunci itu pastilah ia juga dapat menemukan kakeknya.

BIbo bergegas bangkit. Ia mencari-cari sesuatu. Yah, tas hitam ranselnya ada di mana? Saat berangkat dari rumah nenek dan terbang bersama Si Blue. Ia membawa sedikit perbekalan dalam tas hitam ranselnya. Walaupun sebenarnya ia tidak membutuhkan lagi. Karena di dalam hutan ini ada makanan dan buah yang bisa dimakannya. Tapi ada sesuaut yang penting di dalam tas itu. Ah, apakah tas itu juga jatuh dan hilang bersama dengan  hilangnya Si Blue. BIbo sudah berteriak-teriak cukup keras memanggil si Blue. Tapi Blue tidak muncul juga.

BIbo berjalan sendiri di tengah lembah yang di penuhi akar-akar pohon yang bergantungan dan menjalar menyatu seperti rantai. Ia berjalan dengan sangat hati-hati sekali. Sepertinya lembah ini tidak pernah sekalipun di masuki oleh manusia. Ada banyak aliran air antara satu kolam akar dengan kolam akar lainnya yang lebih kecil. Air-air itu bertemu dan berkumpul dalam kolam-kolam akar yang lebih besar. Ada tumbuh-tumbuhan lumut yang berwarna biru, sungguh aneh. Akar-akar itu terlihat sangat licin. BIbo tidak tahu kalau dari akar-akar itu ada celah celah kecil tersenbunyi yang merupakan lorong-lorong berupa jalan yang bisa di lalui.

BIbo tidak tahu ia akan berjalan ke mana. Ia merasa menikmati perjalanannya sembari melihat burung-burung berterbangan dan berkicau di sarang-sarangnya. Ada banyak lubang di batang-batang pohon itu. ada banyak burung yang bersarang di dalamnya. Namun lagi-lagi BIbo dikejutkan dengan pemandangan yang takjub. Ada lembah berpasir di tengah hutan. Pasir itu warnanya biru berkilau. Kilau cahayanya melingkar-lingkar seperti menari-nari di bawa hembusan angin dari batang dan ranting daun pepohonan.

‘BIbo jangan ke sana!” Terdengar sebuah suara peringatan kepadanya. Itu seperti suara yang di dengarnya tadi.

BIbo mencari-cari asal suara itu. dari balik celah akar pohon ia melihat ada seorang lelaki dengan lengan baju dan celana yang di gulung. Di tangannya ada sebuah tongkat dari ranting kayu. Ia berdiri dengan pakaian warna hitam dan tas kecil warna biru yang menyelimpang di dadanya.

“Jangan kamu dekati lembah berpasir itu! ulangnya sekali lagi kepada BIbo. Peringatannya sangat jelas. Ia tidak menginginkan BIbo berjalan mendekati lembah berpasir itu. Matanya mengarah kepada BIbo. Ia tunjukkan tongkat ranting kayunya ke pada BIbo. Menjauhlah dari sana. Tempat itu sangat berbahaya bagimu.”

“Hai, orang aneh. Siapakah dirimu? Bagaimana kamu tahu namaku?” sahut BIbo berdiri tegak berteriak dan bertanya kepada orang aneh yang ada di celah-celah akar itu.

“Namaku Caru. Aku penjaga hutan Rana ini.”

Jadi ini benar-benar hutan Rana. Hutan yang aku cari. Berarti di sinilah negeri angin itu. tapi bagaimana orang ini bisa tahu namaku. Pikir BIbo sambil menatap jauh kearah orang aneh itu.

“Apa yang kamu katakan hai orang aneh? Apakah ini benar hutan Rana?”

“Benar BIbo. Kamu sekarang berada di hutan Rana.Berhati-hatilah.” Teriak orang aneh itu yang menyebut namanya Caru itu dan terus pergi menghilang.

“Hai Caru tunggu! Apakah engkau mengetahui di mana negeri angin? Tanya BIbo berteriak menahan Caru yang akan segera pergi. Tapi terlambat orang aneh itu sudah menghilang diantara celah-celah akar pohon yang besar itu.

BIbo hanya menatapnya jauh. Sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Ia tak bersuara lagi. Hanya matanya yang menatap tajam jauh ke dalam  hutan Rana yang menelan Caru dan menghilang secara misterius.

Apa yang harus aku lakukan sekarang. Mengapa Caru melarang aku untuk mendekai lembah berpasir itu? Ada apa sebenarnya di sana? Kenapa aku tidak boleh ke sana? Siapakah sebenarnya Caru itu?  Tingkahnya sangat aneh sekali. Apakah ia terus mengikuti dan mengawasi aku?

BIbo dibuat penasaran dan bertanya-tanya tentang lembah berpasir dan siapa Caru itu. Ia berpikir, apakah negeri angin itu ada di sana? Dan Caru tidak menginginkan aku ada di sana bertemu dan berjumpa dengan kakekku. Apakah kunci yang di curi itu ada disana dan disembunyikan oleh Caru di tempat itu. Apakah Caru yang mencuri kunci itu dan menyembunyikannya di lembah berpasir itu?
Ah, aku harus membuat keputusan. Aku harus cari tahu kenapa Caru melarangku ke lembah pasir itu. apakah di sana tersimpan sebuah rahasia?

BIbo melangkah mendekati lembah berpasir biru itu. Ada suara-suara angin yang mendesau lebat. Dan menggulung pasir-pasir biru itu. BIbo kaget dan terkejut ada seorang anak laki-laki yang terbawa dalam arus angin itu. dan jatuh terhempas cukup keras.menghantam akar kayu yang cukup besar. Ohh….siapa anak laki-laki itu? kejar BIbo mendekatinya.

Baca juga: Di Hutan Rana Bagian 6 Perjalanan Ke Negeri Angin

Mampir ke :Seputar Rumah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar