Bag.9
Perjalanan Ke Negeri Angin
Oleh: Syaiful Bahri
“Kita harus mencari tempat yang aman
BIbo. Kalau tidak mereka akan mengejar dan menangkap kita.”
“Siapa yang kamu maksud? Tidak ada
siapa-siapa di belakang kita.”
“BIbo…ayolah. Jangan berhenti dulu.
Percayalah padaku. Kita harus berlari dan bersembunyi di tempat yang aman”
Keduanya terus berlari. Pada satu arah.
Nafas keduanya saling memburu. Dalam hati BIbo bertanya-tanya. Siapakah yang
mengejar mereka? Bukankah tidak ada siapa-siapa dibelakang mereka.
“Awas BIbo merunduklah!” tiba-tiba saja
dari belakang BIbo sekumpulan angin berwarna hitam yang berubah menjadi bentuk
anak panah berhamburan menyerang mereka. Terdengar suara dentuman bagaikan
suara halilintar ketika anak-anak panah itu melewati mereka dan menghantam
pohon-pohon berakar yang melindungi mereka. Tiba-tiba saja ada terdengar sebuah
suara yang memerintahkan mereka untuk memasuki lorong-lorong jalan yang ada di
celah-celah akar pohon.
Dari celah-celah akar pohon-pohon itu
ada lorong yang dapat mereka masuki. Lorong-lorong itu saling berhubungan
antara satu pohon dengan pohon lainnya. BIbo tidak menduga sama sekali kalau
mereka diikuti dan hampir saja ia terkena benda aneh yang berhamburan ke
arahnya tadi. BIbo juga tidak tahu kalau dari celah-celah akar pohon di hutan
Rana ini ada lorong-lorong jalan yang tersembunyi. Ia yakin suara yang
terdengar tadi adalah suara Caru, orang aneh yang ia jumpai di hutan Rana ini.
Jadi Caru masih mengikuti dan mengawasi aku. BIbo tidak bisa berpikir lagi. Banyak keanehan
yang dijumpainya di hutan Rana.
Mereka tiba di suatu tempat dalam sebuah
lorong akar yang sangat luas. Di dalamnya ada kantung-kantung kecil pada urat
akar yang berisikan titik-titik air. Air-air itu bisa mereka minum. Mereka
seperti berada di dalam sebuah gua. Gua akar pohon kayu. Ada lubang-lubang
kecil tempat masuknya cahaya. Mereka bersembunyi di dalamnya.
“Siapa mereka Aray?” Tanya BIbo dari
tempat persembunyian mereka.
“Maksudmu?”
“Mereka yang mengejar kita. Dan siapa
kamu sesungguhnya? Mengapa mereka mengejar-ngejar kamu?”
Aray terdiam dengan pertanyaan BIbo. Ia
menundukkan kepala. Terlihat ada kesedihan dari wajahnya. Lama ia tertunduk.
Tatapan matanya kosong tapi kemudian ia segera bangkit.
“Aku Aray. Pangeran dari negeri angin.
Aku diburu dan dikejar-kejar oleh pasukan Emos yang memberontak pada kerajaan
ayahku di negeri angin.”
“Jadi, kamu putra seorang Raja.” Sahut
BIbo menghampiri Aray dan menatapnya.
Kedua mata mereka saling beradu pandang.
Ada sedikit kilatan cahaya kemarahan di mata Aray. Ia sedang menahan emosi dan
kemarahannya. BIbo mencoba untuk menenangkannya.
“Aku sudah menduganya Aray. Dari pakaian
yang kamu pakai. Kamu pasti bukan orang biasa. Dan itu, ranting akar daun
keemasan yang melingkar di kepalamu. Sudah menunjukkannya. Aku percaya kamu
seorang pangeran.” Kata BIbo menepuk pundak Aray.
“Kalau aku boleh tahu siapa Emos itu?”
“Emos adalah panglima perang di kerajaan
negeri angin. Tapi ia berkhianat kepada Raja. Ia mencuri kunci kerajaan dan
membuka sumber kekuatan rahasia kerajaan negeri angin. Ia ingin menjadi raja di
negeri angin. Ayahku di penjarakan olehnya. Aku bersyukur bisa selamat. Karena paman
Dubi membantuku untuk melarikan diri dari negeri angin setelah dikepung oleh
pasukan Emos. Kekuatan kerajaan menjadi lemah. Orang-orang baik disekeliling
ayah juga ditangkap dan dipenjara. Negeri Angin sekarang penuh keributan dan
tidak ada lagi kedamaian di dalamnya. Kecuali aku bisa menemukan kunci kerajaan
yang di curi oleh Emos.”
BIbo mengangguk-anggukkan kepalanya
mendengar cerita Aray. Ia ikut bersedih atas apa yang terjadi di negeri angin.
“BIbo tahukah kamu, sebelum aku di
selamatkan Dubi ke hutan Rana ini. Ia berkata bahwa aku akan berjumpa dengan
seorang anak laki-laki yang bisa menemukan kembali kunci kerajaan yang di curi
Emos. Ia mengatakan ciri-ciri anak itu. dan aku melihatnya ada pada dirimu.”
Kata Aray bersuara penuh harapan.
BIbo terdiam sejenak. Ia sedang
berpikir. Apakah Emos yang mencuri kunci darinya 10 tahun yang lalu. Apakah
kunci yang dimaksud Aray sama dengan kunci yang sedang dicarinya. Kalau kunci
yang kucari bisa menemukan kakekku yang hilang. Sementara kunci yang dicari
Aray bisa mengembalikan kerajaan negeri angin pada kedamaian dan memadamkan
pemberontakan Emos. Ah, aku masih belum tahu pasti.
“BIbo kenapa kamu melamun?” Tanya Aray
menghentikan pertanyaan yang ada di kepalanya.
“Aku sedang berpikir. Apakah kunci yang
kita cari itu sama?”
Aray terdiam tidak mengerti.
“Kunci apa yang kamu maksudkan BIbo?”
Aray balik bertanya kepada BIbo yang memandangi dirinya.
“Aku diminta oleh nenekku untuk
menemukan sebuah kunci yang di curi dariku sepuluh tahun yang lalu dari orang
aneh yang memberikannya kepadaku. Kunci itu bisa menghantarkan aku untuk bisa
bertemu dengan kakekku yang menghilang 33 tahun yang lalu. Cerita BIbo kepada
Aray. Dengan kunci itu aku bisa menemukan kakekku dan akan membawanya pulang
ketempatku. Sedangkan engkau mengatakan sedang mencari kunci kerajaan yang di
curi Emos. Dan Dubi mengingatkan bahwa seorang anak laki-laki yang memiliki ciri-ciri
seperti aku yang bisa menunjukkan kepadamu kunci kerajaan itu. Aku sedikit
bingung. Apakah kita sedang mencari kunci yang sama?”
Mereka berdua sama-sama terdiam.
Keduanya sama-sama sedang berpikir. Apakah kunci yang sedang mereka cari itu
sama. Apakah keduanya memiliki hubungan satu dengan yang lain. Siapa yang
dimaksud dengan orang aneh yang memberikan kunci itu kepada BIbo? Dan siapakah
yang mencuri Kunci itu dari BIbo? Kenapa paman Dubi berkata kepadaku bahwa ada
seorang anak laki-laki akan datang yang akan menunjukkan kunci kerajaan itu.
Tapi kunci kerajaan itu Emos yang mencurinya dari kerjaan. Apakah Emos juga
yang mencuri kuncinya BIbo? Apakah mereka orang yang sama? Pikiran itu terus
ada di kepala Aray.
Disaat mereka sedang terdiam dan
sama-sama berpikir. Terdengar suara tawa.
“Hahaha…sungguh, kalian anak-anak
pemberani yang hebat.” Tiba-tiba di depan mereka sudah berdiri Caru, orang aneh
dengan tongkat ranting kayu.
Baca Sebelumnya: Bertemu Sahabat Baru Bagian 8
Perjalanan Ke Negeri Angin
Baca Juga: Suara Menara Qalbu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar