Bagian 2
Perjalanan Ke Negeri Angin
Oleh: Syaiful Bahri
BIbo terbang di rumah nenek. kakinya
tidak bisa lepas dari bola biru itu. Tubuhnya juga masih di selimuti cahaya
biru. Nenek sudah berdiri dari kursi rotannya. Hanya menunjuk tangannya ke
tubuh BIbo dan bola biru itu melepaskan cahaya birunya dari tubuh BIbo. Bibo
mulai bisa menggerakkan tubuhnya. Ia bisa berbicara dan berteriak kepada
neneknya, memanggil-manggil neneknya. Tapi neneknya hanya diam saja tidak
menyahuti panggilannya.
“Nek..nenek…apa yang terjadi dengan BIbo
nek..!!”
“Mengapa BIbo bisa terbang dan melayang,
meja dan kursi-kursi itu bisa berterbangan? Sedangkan nenek tidak?” teriak
BIbo dari langit-langit rumah.
“Bola apa ini nek? kenapa tiba-tiba
rumah nenek seperti berubah menjadi sangat besar? Tak ada lagi dinding-dinding
yang membatasi. Kita ada di mana nek?” lagi-lagi suara teriak Bibo yang tak
mendapat jawaban.
Bibo semakin menjadi penasaran.
Dicobanya untuk mendekati sang nenek. tapi semakin jauh. Ia tak pernah bisa
memegang dan sampai pada neneknya. ia seperti berada di sebuah ruangan yang
sangat luas penuh cahaya biru. Pintu-pintu rumah semakin tertutup rapat. Bibo
tak bisa melihat ke luar. Ia tidak tahu apakah hari telah berganti menjadi
siang.
Kaki BIbo masih menempel di bola biru
berekor itu. Ia menuju dapur mencari sang nenek yang tiba-tiba menghilang.
Disana tidak dijumpainya sang nenek. Ia bergerak menuju kamar nenek, apakah
nenek sudah tidur. Nenek juga tidak ada di situ. BIbo masuki semua kamar yang
ada di rumah nenek. Tapi nenek tidak ada. Nenek BIbo menghilang. Bukankah nenek
baru bersamanya di ruang tamu tadi. Bibo coba kembali ke ruang tamu. Kursi
rotan itu kosong. Tak ada nenek yang duduk di situ. Kemana nenek? BIbo
berteriak-teriak memanggil neneknya. Hanya tubuhnya yang bergoyang-goyang dan
bergetar keras. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara nenek yang memanggil-manggil
namanya. “BIbo…BIbo…Ayo bangun! Sudah siang.”
BIbo terkejut dan terbangun. Apakah ia
barusan bermimpi? Kenapa mimpinya aneh sekali? Dilihat wajah neneknya yang
tersenyum kepadanya. Sepertinya ada semburat cahaya aneh yang tersembunyi di
mata nenek. Ada sesuatu yang dirahasiakan oleh nenek. Apakah nenek ada
kaitannya dengan mimpi anehnya?
“Kamu mimpi apa BIbo?” Tanya neneknya
dari arah dapur sambi menggoreng sesuatu di wajan penggorengannya.
“Kok nenek bisa tahu kalau ia bermimpi?”
tanya BIbo berbisik dalam hatinya, Mimpi aneh nek. Mimpi terbang di dalam rumah
nenek.” jawab BIbo sambil merapikan rambutnya yang basah. Sang nenek hanya
melirik tersenyum kepadanya dan meneruskan masakannya.
BIbo merasa ada sesuatu yang aneh di
rumah nenek. BIbo berencana untuk mengetahuinya. Ia tidak yakin betul apakah
tadi malam dirinya benar-benar bermimpi. Semua kejadian yang dialaminya seperti
nyata. Ia terbang di atas sebuah bola. Bola itu berekor dan berwarna biru. Ada
cahaya biru di seluruh ruangan rumah nenek. cahaya itu berasal dari bola biru
berekor itu. Tapi bola itu asalnya dari mana ya? Kok bisa ada di rumah nenek?
apa punya nenek? dari mana nenek mendapatkannya? Sekarang bola itu ada di mana?
Kenapa nenek tidak mau bercerita kepadanya? Ah, apakah karena aku sangat
kelelahan tadi malam, sehingga aku tertidur pulas? pikir BIbo tentang kejadian
yang dialaminya semalam.
“BIbo….kok kamu masih ngelamun? Itu
sarapan dulu nenek sudah siapin sarapan nasi goreng pakai sambal teri
kesukaanmu.” Kata nenek BIbo sambil menunjukkan sepiring penuh nasih goreng
lengkap dengan menu kesukaannya di atas meja makan. Tak menunggu perintah nenek
lagi, BIbo segera bangkit dari duduknya dan menyantap sarapan yang telah
disiapkan nenek untuknya.
“Wah, nek. Enak sekali nasi goreng dan
sambal terinya. Nenek masih ingat aja dengan kesukaan BIbo.”
“Eh…kalau makan jangan buru-buru dan
berbicara. Masih ada lagi kejutan yang akan nenek berikan buat BIbo.”
Kejutan. Kejutan apa yang akan nenek
berikan kepadaku. Bisik batin BIbo.
“Nenek mau beri kejutan buat BIbo.
Kejutan apa itu nek?” sontak Bibo kegirangan.
“Habiskan dulu sarapanmu. Duduk yang
sopan saat makan itu.” Ucap nenek mengingatkannya sekali lagi.
BIbo Cuma diam dengan mulut sambil
mengunyah teri-teri kesukaannya.
Janji nenek betul-betul ditepati. Nenek
memanggilnya dari dalam kamar. Sambil duduk diatas ranjang, nenek memperlihatkan kepadanya
sepasang baju warna putih. Disisi kirinya ada gambar sebuah bola berwarna biru.
Nenek tersenyum-senyum kepadanya sambil menunjukkan baju itu kepadanya. Seolah
meminta pendapat BIbo mengenai baju itu.
“Bagaimana menurutmu BIbo? Apa kamu suka
dengan baju ini?” Tanya nenek menghapus bayangan BIbo tentang gambar bola biru
dibaju itu.
“Gambar bolanya bagus nek. Bibo seperti
pernah melihat bola biru yang ada di baju itu.” Kata Bibo meyakinkan dirinya.
Sang nenek hanya tertawa-tawa kecil
saja.”Ini baju jahitan nenek sendiri. Dan gambar bola biru ini adalah
kejutannya.”
“Maksud nenek?”
“Tadi malam saat kamu sampai di rumah
nenek. kamu nanyak-nanyak tentang cahaya biru yang ada di rumah ini. Tapi
setelah kamu meminum teh dari nenek. kamu merasa ngantuk dan tertidur.”
“Ooh…benarkah nek? BIbo tidak ingat.
Hanya saja BIbo merasa berada di sebuah istana yang penuh cahaya biru dengan
sebuah bola biru yang berekor. Dan Bibo bisa terbang nek dengan bola itu.
Apakah BIbo sedang bermimpi?”
“Hehehe……” tawa nenek BIbo menyimpan
misteri.
“Nek….kenapa nenek malah tertawa? Apakah
rumah ini rumah ajaib? Kenapa BIbo sebelumnya tidak tahu.” Tanya BIbo mendekati neneknya.
“Coba kamu pakai dulu baju ini. Nanti
kamu bisa mengetahuinya.” Sang nenek menyodorkan baju yang ada ditangannya
kepada BIbo.
Sesaat kemudian BIbo sudah memakai baju
yang diberikan nenek kepadanya.
“Sekarang tempelkan tangan kananmu ke
gambar bola biru itu.” Perintah sang nenek.
Tiba-tiba BIbo merasakan sesuatu yang
aneh. Seluruh tubuhnya merasa hangat. Ada cahaya biru yang menyelimuti
tubuhnya. BIbo terkejut karena di depannya, nenek tiba-tiba sudah memegang
sebuah bola berwarna biru.
Baca Juga: Rumah Ajaib Nenek Bagian 1
Perjalanan Ke Negeri Angin.
Lihat: Suara Menara Qalbu
Baca Juga: Rumah Ajaib Nenek Bagian 1
Perjalanan Ke Negeri Angin.
Lihat: Suara Menara Qalbu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar