Selasa, 11 Juli 2017

"Rumah Ajaib Nenek"

Bagian 1

Perjalanan Ke Negeri Angin

Oleh: Syaiful Bahri

Tiba-tiba rumah tua yang ada dipinggir jalan itu mengeluarkan cahaya. Cahaya itu warna biru. Tidak diketahui dari mana sumber cahayanya. Tapi rumah tua itu menjadi sangat terang. BIbo tampak tertegun melihat cahaya itu dari tempatnya berdiri di sebrang jalan. Ia sangat takjub melihat pemandangan cahaya itu. Cahaya biru itu keluar dari rumah neneknya. BIbo sudah lama tidak berkunjung ke rumah nenek. Hanya nenek saja yang tinggal di rumah itu. Ketika BIbo berniat melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah nenek, cahaya biru itu tiba-tiba menghilang. Hanya tampak rumah tua renyot dengan cat-cat dinding rumahnya yang sudah terkelupas dan rapuh dimakan rayap.

Halaman rumah itu cukup luas. Hamparan rumputnya sudah terlihat tinggi dan mulai tak terurus. Ada beberapa pohon mangga dan jambu yang masih tumbuh dan semakin tua.  Rumah itu dipagari dengan kayu-kayu kecil berjajar rapi mengelilingi halaman rumah.  Rumah yang berada di pinggir jalan desa itu kelihatan sepi. Hanya ada beberaapa rumah tetangga saja disekitarnya, yang jaraknya juga cukup jauh.

 BIbo sedang liburan sekolah. Ia mengunjungin neneknya secara diam-diam. Ia sampai di rumah nenek ketika hari sudah mulai gelap. BIbo tidak pernah melihat cahaya biru itu sebelumnya. Ia jadi mencemaskan keadaan nenek. Dipercepat langkah kakinya mendekati rumah dan mengetuk pintunya.

“Siapa?” teriak suara dari dalam rumah dan terdengar langkah kaki  mendekati pintu.
BIbo diam saja tidak menyahut. Tapi ia sudah siap menyambut nenek dengan kejutan. Perlahan  terdengar suara derit pintu dibuka. Seraut wajah tua berkudung dengan mata binar berdiri di depan pintu. Wajah tua itu sangat terkejut dan berteriak dengan gembira.

“BIbo…cucu nenek. Ayo masuk! Kenapa tidak memberitahu nenek kalau mau datang?”
“BIbo ingin membuat kejutan sama nenek, jawab BIbo sumringah sembari mencium tangan nenek dan memeluknya. BIbo rindu sama nenek. Sudah lama BIbo enggak main kemari.”

 BIbo sekarang sudah sekolah menengah pertama. Ia  bersekolah di kota ikut bersama orang tuanya. Baru kali ini, ia berkunjung ke rumah nenek seorang diri. Tanpa basa basi dengan neneknya. BIbo langsung bertanya tentang cahaya biru yang tadi dilihat memancar keluar dari dalam rumah. Sang nenek sedikit terkejut. Namun diikuti dengan senyumannya yang melebar.

“Nek, Cahaya biru apa itu tadi? Dari mana asalnya? Nenek tidak apa-apakan nek? Cahayanya terang sekali. Rumah nenek diselimuti cahaya biru. BIbo melihatnya dari luar, saat sampai disini tadi. Tapi ketika BIbo mau mendekat, Cahaya Biru itu tiba-tiba menghilang, Lenyap seketika,” cerita BIbo memberondong nenek dengan pertanyaannya.

“BIbo…BIbo….istirahatlah dulu. Kamu masih seperti dulu saja. Masih suka ingin tahu dan tidak sabar untuk mengetahuinya.”

“Betul nek, Bibo ingin sekali tahu cahaya biru itu sumbernya dari mana? Apa jangan-jangan ada Alien yang sedang bersembunyi di rumah ini?” tanya BIbo menggoda sang nenek.

“Hahaha…..BIbo…BIbo, masih saja kamu suka berkhayal yang aneh-aneh. Nih, minum dulu teh hangatnya! Biar badanmu lebih hangat! Kamu tidak mandi? biar badanmu menjadi lebih segar?”

“Udah malam nek. Besok pagi sajalah,” jawab BIbo sambil meneguk teh yang diberikan nenek kepadanya.

“Bagaimana khabar orang tuamu?” tanya neneknya mengalihkan pembicaraan.

“Alhamdulillah…ayah dan bunda sehat, mereka titip salam buat nenek dan minta maaf tidak ikut datang kemari.”

“Waalaikum salam…syukurlah kalau mereka sehat. Tidak apa-apa jika tidak bisa kemari. Orang tuamu pasti masih sibuk dengan pekerjaannya.”

“Iya nek,” jawab BIbo sambil menghampiri neneknya yang sudah duduk di sebuah kursi rotan.
Ada sebuah benda bulat yang di pegang nenek. warnanya biru. Nenek mengelap-ngelap benda itu dan menghembus-hembuskan mulutnya ke benda bulat yang mirip bola itu.

“Benda apa itu nek? Bulat seperti bola. Warna birunya seperti cahaya biru yang BIbo lihat tadi?” wajah BIbo semakin mendekat untuk melihatnya. Namun nenek diam saja tidak menjawab pertanyaannya. Hanya isyarat tangannya ke mulut agar Bibo diam. Bibo semakin menjadi penasaran dengan sikap nenek itu. Ia terdiam dan melihat saja perbuatan nenek yang masih mengelus-ngelus benda bulat itu.

Tiba-tiba Bibo merasakan sesuatu yang hangat menjalari tubuhnya. Tubuhnya seolah bergetar dan terangkat. Meja dan kursi-kursi yang ada di rumah nenek melayang. Tapi nenek masih duduk diam di kursi rotannya. Ada cahaya biru yang keluar dari bola itu dan menerangi rumah nenek. Cahaya itulah yang menyebabkan tubuh BIbo terangkat dan melayang-layang. BIbo menjadi takut kalau ia nanti jatuh. Ia merasa aneh dengan kejadian itu, tapi tidak bisa bicara dan bersuara. Matanya hanya bisa melihat nenek dengan bola birunya. BIbo ingin teriak memanggil neneknya, tapi suaranya tidak bisa keluar. Bibo melihat tiba-tiba bola biru yang ada di tangan nenek berputar-putar. Berputar mengelilingi nenek yang duduk di kursi rotan. Ada yang aneh dengan senyum nenek yang melihat kepadanya. Dan….

Bola biru itu mendekatinya. Ada sesuatu yang keluar dari benda itu, Ekor. Benda bulat yang mirip bola itu ternyata memiliki ekor. BIbo dibuat terkejut oleh benda yang mendekatinya itu. Tubuh BIbo merasakan hangat dan geli saat cahaya biru dari bola biru itu menyelimuti dirinya. BIbo ingin tertawa tapi juga tidak bisa. Hanya matanya saja yang melihat isyarat dari nenek agar dirinya untuk tetap diam. Tiba-tiba BIbo terbang dengan benda bulat biru itu. Kakinya sudah diatas benda bulat berekor itu. Ia tidak merasa takut lagi, tidak takut jatuh. Kakinya semakin kuat menempel di bola biru berekor itu. Bola biru berekor itu membawanya terbang di dalam rumah nenek. Rumah nenek seolah berubah menjadi tanpa dinding, luas dipenuhi cahaya biru.


Nenek duduk sambil tersenyum-senyum di kursi rotannya. Ia mengisyaratkan agar BIbo tetap diam, karena ada sesuatu yang sedang ditunjukkan nenek kepada BIbo di rumah ajaibnya. Kini rumah tua renyot milik nenek telah berubah menjadi istana cahaya biru. BIbo semakin terkagum-kagum dibuatnya.

Baca juga:Si Blue, Si Bola Berekor  Bagian 3
Perjalanan Ke Negeri Angin.

Mampir Juga ke:Suara Menara Qalbu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar