Bagian 1
Perjalanan Ke Negeri Angin
Oleh: Syaiful Bahri
Perjalanan Ke Negeri Angin
Oleh: Syaiful Bahri
Tiba-tiba
rumah tua yang ada dipinggir jalan itu mengeluarkan cahaya. Cahaya itu warna biru.
Tidak diketahui dari mana sumber cahayanya. Tapi rumah tua itu menjadi sangat
terang. BIbo tampak tertegun melihat cahaya itu dari tempatnya berdiri di
sebrang jalan. Ia sangat takjub melihat pemandangan cahaya itu. Cahaya biru itu
keluar dari rumah neneknya. BIbo sudah lama tidak berkunjung ke rumah nenek.
Hanya nenek saja yang tinggal di rumah itu. Ketika BIbo berniat melangkahkan
kakinya memasuki halaman rumah nenek, cahaya biru itu tiba-tiba menghilang. Hanya
tampak rumah tua renyot dengan cat-cat dinding rumahnya yang sudah terkelupas
dan rapuh dimakan rayap.
Halaman rumah itu cukup luas. Hamparan
rumputnya sudah terlihat tinggi dan mulai tak terurus. Ada beberapa pohon
mangga dan jambu yang masih tumbuh dan semakin tua. Rumah itu dipagari dengan kayu-kayu kecil
berjajar rapi mengelilingi halaman rumah.
Rumah yang berada di pinggir jalan desa itu kelihatan sepi. Hanya ada
beberaapa rumah tetangga saja disekitarnya, yang jaraknya juga cukup jauh.
BIbo sedang liburan sekolah. Ia mengunjungin neneknya
secara diam-diam. Ia sampai di rumah nenek ketika hari sudah mulai gelap. BIbo
tidak pernah melihat cahaya biru itu sebelumnya. Ia jadi mencemaskan keadaan
nenek. Dipercepat langkah kakinya mendekati rumah dan mengetuk pintunya.
“Siapa?” teriak suara dari dalam rumah
dan terdengar langkah kaki mendekati
pintu.
BIbo diam saja tidak menyahut. Tapi ia
sudah siap menyambut nenek dengan kejutan. Perlahan terdengar suara derit pintu dibuka. Seraut
wajah tua berkudung dengan mata binar berdiri di depan pintu. Wajah tua itu
sangat terkejut dan berteriak dengan gembira.
“BIbo…cucu nenek. Ayo masuk! Kenapa
tidak memberitahu nenek kalau mau datang?”
“BIbo ingin membuat kejutan sama nenek,
jawab BIbo sumringah sembari mencium tangan nenek dan memeluknya. BIbo rindu
sama nenek. Sudah lama BIbo enggak main kemari.”
BIbo sekarang sudah sekolah menengah pertama. Ia
bersekolah di kota ikut bersama orang
tuanya. Baru kali ini, ia berkunjung ke rumah nenek seorang diri. Tanpa basa
basi dengan neneknya. BIbo langsung bertanya tentang cahaya biru yang tadi dilihat
memancar keluar dari dalam rumah. Sang nenek sedikit terkejut. Namun diikuti dengan
senyumannya yang melebar.
“Nek, Cahaya biru apa itu tadi? Dari
mana asalnya? Nenek tidak apa-apakan nek? Cahayanya terang sekali. Rumah nenek
diselimuti cahaya biru. BIbo melihatnya dari luar, saat sampai disini tadi.
Tapi ketika BIbo mau mendekat, Cahaya Biru itu tiba-tiba menghilang, Lenyap
seketika,” cerita BIbo memberondong nenek dengan pertanyaannya.
“BIbo…BIbo….istirahatlah dulu. Kamu
masih seperti dulu saja. Masih suka ingin tahu dan tidak sabar untuk
mengetahuinya.”
“Betul nek, Bibo ingin sekali tahu
cahaya biru itu sumbernya dari mana? Apa jangan-jangan ada Alien yang sedang
bersembunyi di rumah ini?” tanya BIbo menggoda sang nenek.
“Hahaha…..BIbo…BIbo, masih saja kamu
suka berkhayal yang aneh-aneh. Nih, minum dulu teh hangatnya! Biar badanmu
lebih hangat! Kamu tidak mandi? biar badanmu menjadi lebih segar?”
“Udah malam nek. Besok pagi sajalah,”
jawab BIbo sambil meneguk teh yang diberikan nenek kepadanya.
“Bagaimana khabar orang tuamu?” tanya
neneknya mengalihkan pembicaraan.
“Alhamdulillah…ayah dan bunda sehat,
mereka titip salam buat nenek dan minta maaf tidak ikut datang kemari.”
“Waalaikum salam…syukurlah kalau mereka
sehat. Tidak apa-apa jika tidak bisa kemari. Orang tuamu pasti masih sibuk
dengan pekerjaannya.”
“Iya nek,” jawab BIbo sambil menghampiri
neneknya yang sudah duduk di sebuah kursi rotan.
Ada sebuah benda bulat yang di pegang
nenek. warnanya biru. Nenek mengelap-ngelap benda itu dan menghembus-hembuskan
mulutnya ke benda bulat yang mirip bola itu.
“Benda apa itu nek? Bulat seperti bola.
Warna birunya seperti cahaya biru yang BIbo lihat tadi?” wajah BIbo semakin
mendekat untuk melihatnya. Namun nenek diam saja tidak menjawab pertanyaannya.
Hanya isyarat tangannya ke mulut agar Bibo diam. Bibo semakin menjadi penasaran
dengan sikap nenek itu. Ia terdiam dan melihat saja perbuatan nenek yang masih
mengelus-ngelus benda bulat itu.
Tiba-tiba Bibo merasakan sesuatu yang
hangat menjalari tubuhnya. Tubuhnya seolah bergetar dan terangkat. Meja dan
kursi-kursi yang ada di rumah nenek melayang. Tapi nenek masih duduk diam di
kursi rotannya. Ada cahaya biru yang keluar dari bola itu dan menerangi rumah
nenek. Cahaya itulah yang menyebabkan tubuh BIbo terangkat dan melayang-layang.
BIbo menjadi takut kalau ia nanti jatuh. Ia merasa aneh dengan kejadian itu, tapi
tidak bisa bicara dan bersuara. Matanya hanya bisa melihat nenek dengan bola
birunya. BIbo ingin teriak memanggil neneknya, tapi suaranya tidak bisa keluar.
Bibo melihat tiba-tiba bola biru yang ada di tangan nenek berputar-putar.
Berputar mengelilingi nenek yang duduk di kursi rotan. Ada yang aneh dengan
senyum nenek yang melihat kepadanya. Dan….
Bola biru itu mendekatinya. Ada sesuatu
yang keluar dari benda itu, Ekor. Benda bulat yang mirip bola itu ternyata
memiliki ekor. BIbo dibuat terkejut oleh benda yang mendekatinya itu. Tubuh
BIbo merasakan hangat dan geli saat cahaya biru dari bola biru itu menyelimuti
dirinya. BIbo ingin tertawa tapi juga tidak bisa. Hanya matanya saja yang
melihat isyarat dari nenek agar dirinya untuk tetap diam. Tiba-tiba BIbo
terbang dengan benda bulat biru itu. Kakinya sudah diatas benda bulat berekor itu.
Ia tidak merasa takut lagi, tidak takut jatuh. Kakinya semakin kuat menempel di
bola biru berekor itu. Bola biru berekor itu membawanya terbang di dalam rumah
nenek. Rumah nenek seolah berubah menjadi tanpa dinding, luas dipenuhi cahaya
biru.
Nenek duduk sambil tersenyum-senyum di
kursi rotannya. Ia mengisyaratkan agar BIbo tetap diam, karena ada sesuatu yang
sedang ditunjukkan nenek kepada BIbo di rumah ajaibnya. Kini rumah tua renyot
milik nenek telah berubah menjadi istana cahaya biru. BIbo semakin
terkagum-kagum dibuatnya.
Baca juga:Si Blue, Si Bola Berekor Bagian 3
Perjalanan Ke Negeri Angin.
Mampir Juga ke:Suara Menara Qalbu
Baca juga:Si Blue, Si Bola Berekor Bagian 3
Perjalanan Ke Negeri Angin.
Mampir Juga ke:Suara Menara Qalbu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar