Bag.
6
Perjalanan Ke Negeri Angin
Perjalanan Ke Negeri Angin
Oleh: Syaiful Bahri
BIbo merasakan sakit di semua tubuhnya.
Ia terbangun dari tidak sadarnya. Apa yang sudah terjadi padanya? Di mana si Blue? Ia sekarang sedang ada di
mana? Bisik BIbo sambil memegangi
dadanya yang masih terasa sakit. Matanya memperhatikan sekelililingnya. Ada
banyak akat-akar pohon yang sebesar badannya. Meliuk-liuk melingkar
bergantungan di batang-batang pohonnya. BIbo tidak tahu ia ada di mana.
Pohon-pohon itu sangat aneh. Batang-batang pohonnya tumbuh menjulang tinggi dengan
ditopang akat-akarnya yang kelihatan seperti payung-payung raksasa. Dari
akar-akar pohon itu memancurkan air yang bening seperti pancuran dan mengalir
kembali ke lubang-lubang akar di dalam tanah seperti kolam kolam kecil yang
berlumut warna biru. Airnya sangat bening terkumpul di kolam-kolam akar itu.
BIbo berusaha bangkit berjalan mendekati
kolam-kolam akar itu. Ia merasa sangat haus. BIbo masih belum ingat apa yang
sudah terjadi dengan dirinya. Ia berada di tepi kolam akar berair bening itu.
dan meraup airnya dengan kedua tangannya. Air itu sangat dingin. BIbo
meminumnya dan membasuh wajahnya dengan air tersebut. Tiba-tiba BIbo dikejutkan
dengan bermunculannya ikan-ikan tanpa sirip dari celah-celah akar pohon.
Berenang mendekatinya. Sontak BIbo menggeserkan badannya sedikit menjauh.
Karena dari mulut-mulut ikan itu mengeluarkan buah-buahan hijau segar yang
kemudian mengapung di atas air kolam akar itu.
BIbo tidak berani menyentuhnya apalagi
untuk mengambilnya. Buah-buahan itu bukan miliknya. Walaupun perutnya semakin
terasa lapar ketika melihat buah-buah yang segar itu. tapi ia tidak ingin
bersikap sembarangan untuk mengambil dan memakannya. Ikan-ikan tanpa sirip itu
menghilang kembali ke celah-celah akar pohon dan meninggalkan buah-buah itu
mengapung di atas air. BIbo hanya bisa memandangi dengan keheranan tapi tetap
berhati-hati. Disaat yang sama, BIbo merasakan ada hembusan angin yang kencang
dan suara yang berat bergetar meriakkan air dalam kolam.
“Hai BIbo, ambil dan makanlah
buah-buahan itu. Jangan takut! Buah-buahan itu
diberikan dan dihidangkan untukmu. Makanlah!”
BIbo berusaha menoleh dan mencari dari
mana asal suara itu. ia memandangi di setiap sudut-sudut dan tepi akar pohon
payung raksasa yang ada di sekitarnya. Tapi tidak menemukan seorangpun. Hanya
lambaian daun-daun dan suara air yang mengalir dari lubang-lubang akar pohon
yang terdengar semakin deras. Ia berpikir bagaimana orang itu bisa tahu siapa
dirinya. Sedangkan ia baru pertama kali berada di tempat aneh ini. Namun
sedikitpun BIbo tidak merasa takut. Ia seakan mendapat kekuatan dari suara itu.
Ia melihat kembali buah-buah segar yang menggiurkan itu. Perutnya terasa mulas
dan berbunyi, dan kerongkongannya pun makin kering. Tanpa ragu ia mengambil
sebiji buah yang mirip dengan buah apel. Dan memakannya. Krass…tiba-tiba ia
merasakan sesuatu yang aneh terjadi.
Ada gelombang angin yang sangat keras
menghantamnya. Diikuti suara petir dan halilintar. Tubuhnya terpental jauh.
Malam saat kejadian itu. BIbo sedang terbang bersama Si Blue menuju ke negeri
angin. Namun setelah kejadian itu ia tidak ingat apa-apa lagi. Ia terpisah
dengan Si Blue. Tubuhnya terjatuh di sebuah lembah yang dipenuhi oleh tumbuhan
dan pohon-pohon berakar yang besar dan aneh.
BIbo terkejut sambil memegang kepalanya.
Setelah ia memakan sebiji buah itu. ia seolah bisa melihat dan mengingat
peristiwa yang dialaminya. “Buah apa ini, pikir BIbo. Aneh sekali setelah
memakannya aku jadi bisa mengingat apa yang aku alami semalam. Dan tubuhku pun
tidak merasakan sakit lagi. Aku menjadi lebih kuat dan segar.” Bisik BIbo
keheranan. Ia masih terus melihat sekelilingnya. Mencari-cari orang yang
bersuara tadi. Ia bermaksud untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.
“Wahai orang aneh, aku ucapkan terima
kasih atas saranmu untuk memakan buah ini. Aku jadi bisa mengingat kembali
peristiwa yang aku alami. Siapakah engkau dan di mana?” teriak BIbo cukup keras
mencari-cari orang yang bersuara tadi.
Namun BIbo tidak melihat siapa-siapa.
Tapi ia tidak putus asa, BIbo terus berteriak di tengah lembah itu dan suaranya
terus menggema.
“Hai orang aneh…bagaimana engkau bisa
mengenal aku? Aku sekarang ini ada di
mana? Tanya BIbo dalam teriakannya. Tanpa ada suara sahutan.
BIbo tertunduk dan duduk diatas tanah
lembah penuh daun. Blue… engkau ada di mana? Maafkan aku tidak bisa menjagamu.
Bisik BIbo pelan dalam hatinya sambil mengingat Si Blue. Apakah ini yang
namanya hutan Rana?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar