Sabtu, 28 Juli 2018

“Di Hutan Rana”

Bag. 6

Perjalanan Ke Negeri Angin

Oleh: Syaiful Bahri

BIbo merasakan sakit di semua tubuhnya. Ia terbangun dari tidak sadarnya. Apa yang sudah terjadi padanya?  Di mana si Blue? Ia sekarang sedang ada di mana?  Bisik BIbo sambil memegangi dadanya yang masih terasa sakit. Matanya memperhatikan sekelililingnya. Ada banyak akat-akar pohon yang sebesar badannya. Meliuk-liuk melingkar bergantungan di batang-batang pohonnya. BIbo tidak tahu ia ada di mana. Pohon-pohon itu sangat aneh. Batang-batang pohonnya tumbuh menjulang tinggi dengan ditopang akat-akarnya yang kelihatan seperti payung-payung raksasa. Dari akar-akar pohon itu memancurkan air yang bening seperti pancuran dan mengalir kembali ke lubang-lubang akar di dalam tanah seperti kolam kolam kecil yang berlumut warna biru. Airnya sangat bening terkumpul di kolam-kolam akar itu.

BIbo berusaha bangkit berjalan mendekati kolam-kolam akar itu. Ia merasa sangat haus. BIbo masih belum ingat apa yang sudah terjadi dengan dirinya. Ia berada di tepi kolam akar berair bening itu. dan meraup airnya dengan kedua tangannya. Air itu sangat dingin. BIbo meminumnya dan membasuh wajahnya dengan air tersebut. Tiba-tiba BIbo dikejutkan dengan bermunculannya ikan-ikan tanpa sirip dari celah-celah akar pohon. Berenang mendekatinya. Sontak BIbo menggeserkan badannya sedikit menjauh. Karena dari mulut-mulut ikan itu mengeluarkan buah-buahan hijau segar yang kemudian mengapung di atas air kolam akar itu.

BIbo tidak berani menyentuhnya apalagi untuk mengambilnya. Buah-buahan itu bukan miliknya. Walaupun perutnya semakin terasa lapar ketika melihat buah-buah yang segar itu. tapi ia tidak ingin bersikap sembarangan untuk mengambil dan memakannya. Ikan-ikan tanpa sirip itu menghilang kembali ke celah-celah akar pohon dan meninggalkan buah-buah itu mengapung di atas air. BIbo hanya bisa memandangi dengan keheranan tapi tetap berhati-hati. Disaat yang sama, BIbo merasakan ada hembusan angin yang kencang dan suara yang berat bergetar meriakkan air dalam kolam.

“Hai BIbo, ambil dan makanlah buah-buahan itu. Jangan takut! Buah-buahan itu  diberikan dan dihidangkan untukmu. Makanlah!”

BIbo berusaha menoleh dan mencari dari mana asal suara itu. ia memandangi di setiap sudut-sudut dan tepi akar pohon payung raksasa yang ada di sekitarnya. Tapi tidak menemukan seorangpun. Hanya lambaian daun-daun dan suara air yang mengalir dari lubang-lubang akar pohon yang terdengar semakin deras. Ia berpikir bagaimana orang itu bisa tahu siapa dirinya. Sedangkan ia baru pertama kali berada di tempat aneh ini. Namun sedikitpun BIbo tidak merasa takut. Ia seakan mendapat kekuatan dari suara itu. Ia melihat kembali buah-buah segar yang menggiurkan itu. Perutnya terasa mulas dan berbunyi, dan kerongkongannya pun makin kering. Tanpa ragu ia mengambil sebiji buah yang mirip dengan buah apel. Dan memakannya. Krass…tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh terjadi.

Ada gelombang angin yang sangat keras menghantamnya. Diikuti suara petir dan halilintar. Tubuhnya terpental jauh. Malam saat kejadian itu. BIbo sedang terbang bersama Si Blue menuju ke negeri angin. Namun setelah kejadian itu ia tidak ingat apa-apa lagi. Ia terpisah dengan Si Blue. Tubuhnya terjatuh di sebuah lembah yang dipenuhi oleh tumbuhan dan pohon-pohon berakar yang besar dan aneh.

BIbo terkejut sambil memegang kepalanya. Setelah ia memakan sebiji buah itu. ia seolah bisa melihat dan mengingat peristiwa yang dialaminya. “Buah apa ini, pikir BIbo. Aneh sekali setelah memakannya aku jadi bisa mengingat apa yang aku alami semalam. Dan tubuhku pun tidak merasakan sakit lagi. Aku menjadi lebih kuat dan segar.” Bisik BIbo keheranan. Ia masih terus melihat sekelilingnya. Mencari-cari orang yang bersuara tadi. Ia bermaksud untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Wahai orang aneh, aku ucapkan terima kasih atas saranmu untuk memakan buah ini. Aku jadi bisa mengingat kembali peristiwa yang aku alami. Siapakah engkau dan di mana?” teriak BIbo cukup keras mencari-cari orang yang bersuara tadi.

Namun BIbo tidak melihat siapa-siapa. Tapi ia tidak putus asa, BIbo terus berteriak di tengah lembah itu dan suaranya terus menggema.

“Hai orang aneh…bagaimana engkau bisa mengenal aku?  Aku sekarang ini ada di mana? Tanya BIbo dalam teriakannya. Tanpa ada suara sahutan.

BIbo tertunduk dan duduk diatas tanah lembah penuh daun. Blue… engkau ada di mana? Maafkan aku tidak bisa menjagamu. Bisik BIbo pelan dalam hatinya sambil mengingat Si Blue. Apakah ini yang namanya hutan Rana?

Baca Juga: Misi Dari Nenek Bagian 5 Perjalanan Ke Negeri Angin 

Langsung Baca :Suara Menara Qalbu




Tidak ada komentar:

Posting Komentar