Sabtu, 28 Juli 2018

“Misi Dari Nenek”

Bagian 5

Perjalanan Ke Negeri Angin

Oleh: Syaiful Bahri

“Dulu, 33 tahun yang lalu. Saat nenek melahirkan bundamu. Kakek menghilang ketika sedang menanam pohon-pohon mangga di halaman rumah itu “

“Jadi, usia pohon-pohon mangga di halaman depan rumah nenek, usianya sama dengan bunda ya, nek?”  kata BIbo menyahuti cerita nenek yang sedang duduk di kursi rotannya.

“Benar, BIbo. Kejadian saat itu sangat cepat. Nenek hanya mendengar dari tetangga yang melihat peristiwa itu.”

“Apa itu nek?” tanya BIbo lagi tidak sabaran.

“Kata mereka, kakekmu hilang disambar halilintar. Waktu kejadian, nenek sedang menyusui bundamu yang baru lahir. Jadi nenek tidak mengetahuinya.”  Jawab sang nenek sambil menarik nafas panjang.

BIbo terus mendengar cerita neneknya. Ia menyimak setiap kata dan ucapan nenek. Ada guratan kesedihan diwajah nenek. Walaupun kejadiannya sudah cukup lama tapi nenek tidak pernah bisa melupakan peristiwa itu.

“Kapan terjadinya  itu nek?”

“Kakekmu sudah berjanji akan menanam pohon-pohon itu jika bundamu sudah lahir. Jadi waktunya kira-kira sore hari. jawab nenek sambil sedikit menggeser duduknya. Padahal waktu itu cuaca di sore hari cerah, tidak  mendung atau turun hujan. Tiba-tiba saja saat kakek menanam batang pohon yang terakhir. Ada angin kencang dan suara halilintar yang menyambar, kemudian membawa tubuh kakekmu. Tubuh kakekmu lenyap bersama hilangnya suara halilintar itu,” dengan nada sedikit ditekan nenek menjawab pertanyaan BIbo. Ada air matanya yang keluar dan segera diusap dengan tangannya.

“ Ditempat terakhir kakek menanam pohon mangga itu, ada cahaya biru kecil berbentuk bulat seperti bola. Nenek mengambil dan menyimpannya.  Setiap melihat cahaya biru bulat itu. nenek selalu bisa melihat wajah kakekmu. Sampai sekarang nenek percaya kalau kakekmu itu masih hidup.”

“Adakah yang mengetahui kakek  di mana, nek?”

“Malam setelah kejadian, nenek bermimpi. Kakek datang dalam mimpi nenek. Ia meminta nenek untuk merawat dan membesarkan bundamu. Kakek  mengatakan ia ada di sebuah tempat yang sangat jauh ditengah hutan.”

Nenek sedikit membungkukkan badannya. Ia menyeduh teh yang masih hangat di atas meja dan meminumnya beberapa teguk. BIbo memperhatikan sikap neneknya. Ia menjadi bertanya-tanya dan penasaran dengan cerita nenek. BIbo mengikuti perbuatan nenek menyeduh dan meminum teh yang masih hangat ke mulutnya. Tenggorokannya terasa hangat setelah meminum teh itu. Cuaca dingin malam ini terusir  mendengar cerita nenek.

BIbo mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sedang berpikir. Kisah tentang kakeknya yang menghilang terasa sangat aneh. Bundanya tidak pernah bercerita tentang kakek. Jadi selama ini, nenek membesarkan bundanya seorang diri. Dan menyembunyikan kesedihan hatinya bertahun-tahun. Sungguh luar biasa neneknya ini. Jasanya sangat besar berjuang sendiri menghidupi dirinya dan bundanya. Apakah karena itu juga rumah ini tidak pernah diperbaiki. Rumah tua renyot yang menyembunyikan keajaiban di dalamnya. Tadi nenek menyebutkan tentang cahaya bulat kecil berwarna biru. Apakah itu si Blue?

“BIbo apa yang sedang kamu lamunkan..?” Tanya nenek pelan tapi mengejutkan.

“Ah, iya nek. BIbo sedang memikirkan benda bulat kecil yang nenek temukan ditempat kejadian terakhir kakek menanam pohon. Nah, benda apa itu nek? Apakah nenek masih menyimpannya?”

“Oh, benda itu. Iya, nenek menyimpan dan menjaganya bertahun-tahun.”
Sejenak nenek terdiam. Seperti ada yang sedang diingatnya. BIbo ikutan mengkerutkan dahinya melihat nenek. Ia beranjak dari duduknya dan mencoba duduk lebih dekat dengan sang nenek.

“Ada apa, nek? Nenek menangis? Apakah ada hubungannya dengan cahaya biru di rumah nenek ini?”  kata BIbo mencoba untuk menerka-nerka.

“Hemm…BIbo,  Apakah kamu sudah siap?”  sang nenek bertanya ke arah BIbo sambil menatap matanya dengan tajam. BIbo terkejut dan sedikit menjauhkan wajahnya dari tatapan mata nenek. Ia tidak tahu apa maksud perkataan sang nenek.

“Maksud nenek?’ BIbo balik bertanya kepada neneknya. Ia mencoba untuk tenang dan memegang kaki sang nenek.

“BIbo, 10 tahun yang lalu, disaat usiamu 2 tahun. Rumah nenek didatangi oleh orang yang tidak dikenal. Ia mengaku datang dari sebuah tempat yang sangat jauh. Negeri seribu angin, katanya. Saat ia melihatmu sedang bermain, ia memberikan sebuah kunci ditanganmu. Ia mengatakan kepada nenek kalau kamulah orang yang ditunggu-tunggu kedatangannya di negeri angin. Tapi kunci itu dicuri oleh orang lain. Dan membawanya pergi sambil meninggalkan pesan di dinding rumah. Kata-kata dalam pesan itu tertulis ‘Ambil kunci ini 10 tahun lagi di hutan rana, hanya anak laki-laki ini yang bisa mengambilnya’ pesan itu sangat jelas.” Cerita nenek kepadanya tentang kejadian 10 tahun yang lalu di rumah ini. Usia BIbo sekarang sudah hampir 12 tahun,  Ia sudah mulai beranjak remaja.

BIbo sedikit menelan ludahnya mendengar cerita sang nenek. Ia sangat tertarik sekali dengan cerita ini. Anak laki-laki yang di maksud itu berarti adalah dirinya. Tapi di mana hutan rana itu? dan terdengar aneh ada sebuah negeri yang bernama negeri seribu angin. Siapakah mereka? Bagaimana ia bisa menemukan hutan rana dan negeri seribu angin itu?

“BIbo..., kunci itu ada hubungannya dengan kakekmu. Dapatkan kembali kunci itu dan temukan kakekmu!” nenek memintanya untuk pergi ke hutan rana dan negeri seribu angin.

“Blue akan menemanimu, Si Blue adalah cahaya biru bulat kecil yang tertinggal di saat terakhir kakekmu menghilang, Ujar sang nenek. Blue akan bersamamu ke negeri angin. Temukan dan bawa kembali kakekmu pulang!”

 Kata-kata  neneknya telah menjawab sedikit pertanyaan yang ada didalam pikirannya. Ia harus bisa menemukan kakeknya, dan membawanya pulang. Ia pun sangat ingin berjumpa dengan sang kakek. Walaupun ia tidak pernah bertemu, tapi ia yakin bisa membawa kakeknya pulang.

Tiba-tiba si Blue bergerak berputar mendekatinya.. Wuzz…wuzzz…..tubuh BIbo di dorong-dorongnya. Melihat itu nenek jadi tertawa-tawa. Cahaya biru kembali menerangi rumah nenek dan berubah menjadi istana cahaya.

“Oke Blue…..kita siap menjalankan misi dari nenek.” Malam itu BIbo tidak bisa tidur. Ia membuat rencana untuk bisa sampai ke negeri angin Tiba-tiba saja ia terbayang wajah bundanya. BIbo berdoa semoga ayah dan bundanya diberikan kesehatan. Wuzz…..wuzzz……

Baca juga: Bersahabat Dengan Si Blue Bagian 4 
Perjalanan Ke Negeri Angin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar