Bagian 5
Perjalanan Ke Negeri Angin
Perjalanan Ke Negeri Angin
“Dulu, 33 tahun yang lalu. Saat nenek
melahirkan bundamu. Kakek menghilang ketika sedang menanam pohon-pohon mangga
di halaman rumah itu “
“Jadi, usia pohon-pohon mangga di halaman
depan rumah nenek, usianya sama dengan bunda ya, nek?” kata BIbo menyahuti cerita nenek yang sedang
duduk di kursi rotannya.
“Benar, BIbo. Kejadian saat itu sangat
cepat. Nenek hanya mendengar dari tetangga yang melihat peristiwa itu.”
“Apa itu nek?” tanya BIbo lagi tidak
sabaran.
“Kata mereka, kakekmu hilang disambar
halilintar. Waktu kejadian, nenek sedang menyusui bundamu yang baru lahir. Jadi
nenek tidak mengetahuinya.” Jawab sang
nenek sambil menarik nafas panjang.
BIbo terus mendengar cerita neneknya. Ia
menyimak setiap kata dan ucapan nenek. Ada guratan kesedihan diwajah nenek.
Walaupun kejadiannya sudah cukup lama tapi nenek tidak pernah bisa melupakan
peristiwa itu.
“Kapan terjadinya itu nek?”
“Kakekmu sudah berjanji akan menanam
pohon-pohon itu jika bundamu sudah lahir. Jadi waktunya kira-kira sore hari. jawab
nenek sambil sedikit menggeser duduknya. Padahal waktu itu cuaca di sore hari cerah,
tidak mendung atau turun hujan.
Tiba-tiba saja saat kakek menanam batang pohon yang terakhir. Ada angin kencang
dan suara halilintar yang menyambar, kemudian membawa tubuh kakekmu. Tubuh
kakekmu lenyap bersama hilangnya suara halilintar itu,” dengan nada sedikit ditekan
nenek menjawab pertanyaan BIbo. Ada air matanya yang keluar dan segera diusap
dengan tangannya.
“ Ditempat terakhir kakek menanam pohon
mangga itu, ada cahaya biru kecil berbentuk bulat seperti bola. Nenek mengambil
dan menyimpannya. Setiap melihat cahaya
biru bulat itu. nenek selalu bisa melihat wajah kakekmu. Sampai sekarang nenek
percaya kalau kakekmu itu masih hidup.”
“Adakah yang mengetahui kakek di mana, nek?”
“Malam setelah kejadian, nenek bermimpi.
Kakek datang dalam mimpi nenek. Ia meminta nenek untuk merawat dan membesarkan
bundamu. Kakek mengatakan ia ada di
sebuah tempat yang sangat jauh ditengah hutan.”
Nenek sedikit membungkukkan badannya. Ia
menyeduh teh yang masih hangat di atas meja dan meminumnya beberapa teguk. BIbo
memperhatikan sikap neneknya. Ia menjadi bertanya-tanya dan penasaran dengan
cerita nenek. BIbo mengikuti perbuatan nenek menyeduh dan meminum teh yang
masih hangat ke mulutnya. Tenggorokannya terasa hangat setelah meminum teh itu.
Cuaca dingin malam ini terusir mendengar
cerita nenek.
BIbo mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
sedang berpikir. Kisah tentang kakeknya yang menghilang terasa sangat aneh. Bundanya
tidak pernah bercerita tentang kakek. Jadi selama ini, nenek membesarkan
bundanya seorang diri. Dan menyembunyikan kesedihan hatinya bertahun-tahun.
Sungguh luar biasa neneknya ini. Jasanya sangat besar berjuang sendiri
menghidupi dirinya dan bundanya. Apakah karena itu juga rumah ini tidak pernah
diperbaiki. Rumah tua renyot yang menyembunyikan keajaiban di dalamnya. Tadi
nenek menyebutkan tentang cahaya bulat kecil berwarna biru. Apakah itu si Blue?
“BIbo apa yang sedang kamu lamunkan..?”
Tanya nenek pelan tapi mengejutkan.
“Ah, iya nek. BIbo sedang memikirkan
benda bulat kecil yang nenek temukan ditempat kejadian terakhir kakek menanam
pohon. Nah, benda apa itu nek? Apakah nenek masih menyimpannya?”
“Oh, benda itu. Iya, nenek menyimpan dan
menjaganya bertahun-tahun.”
Sejenak nenek terdiam. Seperti ada yang
sedang diingatnya. BIbo ikutan mengkerutkan dahinya melihat nenek. Ia beranjak
dari duduknya dan mencoba duduk lebih dekat dengan sang nenek.
“Ada apa, nek? Nenek menangis? Apakah
ada hubungannya dengan cahaya biru di rumah nenek ini?” kata BIbo mencoba untuk menerka-nerka.
“Hemm…BIbo, Apakah kamu sudah siap?” sang nenek bertanya ke arah BIbo sambil
menatap matanya dengan tajam. BIbo terkejut dan sedikit menjauhkan wajahnya
dari tatapan mata nenek. Ia tidak tahu apa maksud perkataan sang nenek.
“Maksud nenek?’ BIbo balik bertanya
kepada neneknya. Ia mencoba untuk tenang dan memegang kaki sang nenek.
“BIbo, 10 tahun yang lalu, disaat usiamu
2 tahun. Rumah nenek didatangi oleh orang yang tidak dikenal. Ia mengaku datang
dari sebuah tempat yang sangat jauh. Negeri seribu angin, katanya. Saat ia
melihatmu sedang bermain, ia memberikan sebuah kunci ditanganmu. Ia mengatakan
kepada nenek kalau kamulah orang yang ditunggu-tunggu kedatangannya di negeri
angin. Tapi kunci itu dicuri oleh orang lain. Dan membawanya pergi sambil
meninggalkan pesan di dinding rumah. Kata-kata dalam pesan itu tertulis ‘Ambil
kunci ini 10 tahun lagi di hutan rana, hanya anak laki-laki ini yang bisa
mengambilnya’ pesan itu sangat jelas.” Cerita nenek kepadanya tentang kejadian
10 tahun yang lalu di rumah ini. Usia BIbo sekarang sudah hampir 12 tahun, Ia sudah mulai beranjak remaja.
BIbo sedikit menelan ludahnya mendengar
cerita sang nenek. Ia sangat tertarik sekali dengan cerita ini. Anak laki-laki
yang di maksud itu berarti adalah dirinya. Tapi di mana hutan rana itu? dan
terdengar aneh ada sebuah negeri yang bernama negeri seribu angin. Siapakah
mereka? Bagaimana ia bisa menemukan hutan rana dan negeri seribu angin itu?
“BIbo..., kunci itu ada hubungannya
dengan kakekmu. Dapatkan kembali kunci itu dan temukan kakekmu!” nenek
memintanya untuk pergi ke hutan rana dan negeri seribu angin.
“Blue akan menemanimu, Si Blue adalah
cahaya biru bulat kecil yang tertinggal di saat terakhir kakekmu menghilang,
Ujar sang nenek. Blue akan bersamamu ke negeri angin. Temukan dan bawa kembali
kakekmu pulang!”
Kata-kata neneknya telah menjawab sedikit pertanyaan
yang ada didalam pikirannya. Ia harus bisa menemukan kakeknya, dan membawanya
pulang. Ia pun sangat ingin berjumpa dengan sang kakek. Walaupun ia tidak
pernah bertemu, tapi ia yakin bisa membawa kakeknya pulang.
Tiba-tiba si Blue bergerak berputar
mendekatinya.. Wuzz…wuzzz…..tubuh BIbo di dorong-dorongnya. Melihat itu nenek
jadi tertawa-tawa. Cahaya biru kembali menerangi rumah nenek dan berubah
menjadi istana cahaya.
“Oke Blue…..kita siap menjalankan misi
dari nenek.” Malam itu BIbo tidak bisa tidur. Ia membuat rencana untuk bisa
sampai ke negeri angin Tiba-tiba saja ia terbayang wajah bundanya. BIbo berdoa
semoga ayah dan bundanya diberikan kesehatan. Wuzz…..wuzzz……

Tidak ada komentar:
Posting Komentar