Bagian 3
Perjalanan Ke Negeri Angin
Oleh: Syaiful Bahri
Perjalanan Ke Negeri Angin
Oleh: Syaiful Bahri
Dengan ke dua tangannya. Nenek
memutar-mutar bola biru itu. Pada saat yang bersamaan tubuh nenek mengeluarkan
cahaya biru. Cahaya biru itu bertambah terang. BIbo hanya bisa memandang tubuh
nenek yang berdiri tegak di samping ranjang tempatnya duduk tadi. Nenek
berusaha untuk menguasai dirinya. Dan cahaya biru itu menghilang dari tubuhnya.
Nenek terlihat menarik nafas dalam-dalam. Ia terlihat sangat lega dan berusaha
tersenyum kepada BIbo.
“Nek..nenek baik-baik saja?” Tanya BIbo
khawatir ditengah keheranannya tadi. Baru kali ini ia melihat kejadian aneh
yang menimpa diri neneknya. BIbo juga masih tidak tahu, dari mana bola biru itu
muncul. Kenapa tiba-tiba tubuhnya menjadi hangat saat tangannya menempel di
gambar bola biru yang ada di samping kiri bajunya. Ia hanya tahu kalau bola
biru itu tiba-tiba sudah ada di tangan nenek.
Anggukan kepala nenek membuat BIbo
menjadi lega. Dilihatnya sang nenek sudah bisa menguasai diri dan tersenyum.
Sedangkan BIbo masih merasakan seluruh tubuhnya dibalut cahaya biru dari bola
biru itu. Ia sudah berusaha untuk melepaskannya. Tapi tidak bisa. Cahaya biru
itu semakin kuat membalut tubuhnya. Tiba-tiba saja nenek berjalan mendekatinya
dan memberikan bola biru itu kepada dirinya.
“Bola biru ini sekarang menjadi milikmu.
Ia akan menjadi sahabat setiamu.” Terdengar kata-kata nenek cukup jelas
ditelinga BIbo.
BIbo menerima bola biru itu dengan kedua
tangannya. Disaat yang sama, cahaya biru ditubuhnya lenyap. BIbo ingin
mengucapkan sesuatu kepada neneknya, tapi nenek lebih dahulu berbicara
kepadanya.
“BIbo, bola biru ini memilihmu untuk
menjadi sahabat setiamu. Namanya ‘Blue, si bola berekor’ Jaga Blue dengan baik,
ia akan membawamu ke dalam sebuah petualangan.” Nenek menepuk-nepuk pundak BIbo
dan menaruh harapan dan kepercayaan yang besar kepadanya.
BIbo masih belum mengerti maksud
neneknya dan kejadian yang barusan dialaminya. Tapi ia masih mengingat mimpinya
semalam. Ia melihat si Blue terbang bersamanya di sebuah istana cahaya. Blue
memiliki ekor yang muncul dari lingkaran biru lubang angin bolanya. Ekornya
warna biru api yang menyala.
“Nek, apa maksud nenek dengan sebuah
petualangan?”
“Nanti kamu akan tahu BIbo, kejadian
hari ini adalah rahasia kamu dengan nenek.” kata neneknya sambil berlalu dari
hadapannya.
“Nek, bagaimana dengan baju putih ini?
“Baju itu menjadi milikmu. Jika kamu
ingin terbang bersama Blue, panggil nama Blue…, sebanyak dua kali dan
berteriaklah.”
“Jadi BIbo bisa terbang dengan si Blue
nek? Cihuii….asyik….!!!” teriak BIbo gembira. Ia tidak menyangka, liburannya
kali ini benar-benar mendapatkan kejutan yang luar biasa dari neneknya. Namun
ia juga bertanya-tanya, darimana asalnya si Blue, kenapa neneknya bisa sangat
tahu tentang si Blue.
Nenek keluar dari kamar. Ia mengambil
sapu dan menyapu lantai rumah. Diikuti dengan BIbo dan Si Blue. BIbo membawa
Blue keluar kamar. Dan bermain di luar rumah. Ia menendang dan menyepak-nyepak
Blue. Di buatnya sebuah gawang kecil di sudut halaman. Asik ia bermain bola.
BIbo menendang Blue ke gawang dan, “Gooolll……” terdengar teriakan BIbo dari
halaman rumah. Nenek yang sedang menyapu melihat BIbo dengan tersenyum dari depan
teras. BIbo tidak perlu berlari-lari untuk mengambil bolanya, karena Blue
kembali dengan sendirinya. Si Blue adalah bola birunya yang ajaib.
Wuzz…wuzz….Si Blue sudah ada di dekat
BIbo dan siap untuk bermain lagi. Tapi BIbo sudah kelihatan sangat kelelahan.
Ia duduk dan merebahkan badannya di atas rumput. Matanya memandang langit yang
cerah. Langit itu berwarna biru. Ia teringat pada Si Blue, Apakah Blue berasal
dari langit yang berwarna biru itu?
tanya BIbo pada dirinya sendiri. Disaat itu ia pun melihat pohon mangga
yang sedang berbuah. Timbul keinginannya untuk makan mangga. Tapi buahnya
berada di pucuk pohon yang tinggi. Bagaimana aku bisa mengambilnya? Pikir BIbo.
Tapi BIbo mendapat ide. Ia pun lansung bangkit dan berdiri.
“Blue…..Blueee……” teriak BIbo memanggil
nama si Blue, Si bola berekornya. Tiba-tiba Blue melesat terbang mendekatinya.
Ada ekor yang keluar dari bulatan bola birunya.
Hup! BIbo meloncat naik ke atas bola
birunya yang sudah mengeluarkan ekornya. Kaki BIbo dengan cepat menempel erat.
Dan meminta Si Blue untuk terbang mendekat kepucuk pohon mangga yang berbuah.
Wuzzz……dalam sekejap BIbo sudah sampai
di atas pucuk pohon mangga dan memetik beberapa buah mangga. BIbo sangat
gembira dirinya bisa terbang bersama Si Blue. Dalam hatinya ia mengucapkan rasa
syukur karena sudah dipertemukan dengan Si Blue.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar